“Bersuka cita dalam pengharapan”
Desember 15, 2007 at 9:52 am | In Jendela Alkitab | Leave a CommentTahun A
Minggu Adven III
Tanggal: 16 Desember 2007
Tema: “Bersuka cita dalam pengharapan”
Bacaan: Yes 35:1-6a; Yak 5:7-10; Mat 11:2-11
Manusia pada dasarnya dilahirkan dengan suatu harapan. Misalnya harapan menjadi seorang anak yang sukses, punya cita-cita, menjadi seorang kebanggaan, atau harapan menjadi seorang tokoh dalam masyarakat. Harapan ini sungguh menjadi suatu cita-cita bagi setiap orang untuk mencapai suatu kebahagiaan. Harapan akan menjadi tinggal harapan ketika orang mengalami kemandekan, putus asa, tidak percaya diri, dan tidak menampakkan perjuangan dalam hidupnya. Orang kehilangan harapan. Tetapi harapan akan tampak bersinar dan cerah bila orang dengan setia dan bersemangat menghadapi situasi apa pun dalam hidupnya. Dan harapan akan semakin kuat terungkap bila ada situasi krisis atau situasi di mana manusia itu kehilangan atau kekurangan segala yang pokok dalam hidupnya.
Hari ini sabda Allah memberi pengertian kepada kita bahwa harapan adalah suatu kehendak dan anugerah Tuhan, yang dengannya orang yang beriman mengharapkan kebahagiaan kekal. Di sini ada suatu kepercayaan yang mutlak ke dalam kemahakuasaan Tuhan. Jadi sebenarnya seluruh hidup kita merupakan suatu harapan akan kedatangan Tuhan. Dalam sejarah penebusan harapan itu terlukis dalam bangsa Yahudi. Harapan itu ditimbulkan dan dihidupkan terus oleh para nabi-nabi terdahulu.
Kepercayaan yang kita miliki adalah suatu jaminan bagi hidup kita yang akan datang, sebagaimana para nabi memberikan kesaksian tentang kedatangan Tuhan di kemudian hari. Dalam bacaan pertama, Yesaya berbicara tentang suatu masa depan yang cerah dan bahagia. Yesaya merupakan seorang nabi yang tinggal di tengah-tengah bangsa Torani selama masa pembuangan di Babilonia. Ketika bangsa itu dalam kekhawatiran maka Yesaya memberitahukan akan suatu harapan, suatu dunia yang lebih baik. A different world is possible , sebuah dunia yang berbeda, yang lebih baik adalah mungkin, Seielah pembuangan bangsa Israel, para Nabi menjanjikan bahwa Tuhan akan mengadakan suatu perjanjian baru bahwa Yang Terurapi akan memurnikan dan menebus bangsa-Nya, dan kerajaan Yahwe akan didirikan di seluruh Israel dan segenap jagat raya.
Sementara dalam Perjanjian Bara pengharapan berlandaskan keyakinan bahwa Tuhan telah mengadakan dan menjanjikan suatu kesepakatan bara dalam Yesus Kristus melalui hidup, wafat dan kebangkitan-Nya. Kesanggupan pengharapan kita berasaskan penebusan melalui Yesus Kristus. Kristus adalah dasar pengharapan kita. Tanpa Dia kita tidak akan berpengharapan dan akan lenyap di dalam dosa. Yang dimaksudkan dengan Kristus sebagai pengharapan kita adalah bahwa kita semua, baik yang benar maupun pendosa, bisa, boleh, dan harus mengharapkan Kristus, bahwa Dia akan menyelamatkan kita semua dan menuntun kita menuju kebahagiaan kekal. Bagi murid-murid Kristus, ini berarti mereka menempatkan pengharapan mereka di dalam diri dan hidup Kristus. Bukan yang lain.
Bersuka cita dalam harapan adalah tema kehidupan bagi seorang Kristen. Seorang Kristen berarti percaya dan setia kepada Yesus Kristus. Dia senantiasa nadir dan tinggal bersama kita. Ini nyata dalam penjelmaan-Nya. Ia datang untuk menyelamatkan kita. Dosa dan kemunafikan kitalah yang senantiasa menghalangi kedatangan Tuhan. Tuhan tidak jauh dari kita, kitalah yang jauh dari-Nya. Karena itulah rahmat Tuhan harus selalu mengisi kekosongan hati kita, dan membukanya bagi Dia. Rahmat-Nya harus membangunkan hati kita, agar kita bersedia menerima-Nya, sehingga hadirat-Nya dapat menerangi hati kita. Rahmat ini adalah lambang terbesar kekuasaan-Nya dan mukjizat-Nya yang terbesar, seperti yang diungkapkan penginjil Matius yakni orang buta melihat, orang tuli mendengar, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir dan akhirnya memberikan hidup kepada apa yang telah mati (bdk. Mat 11:5). Pengakuan akan kekuasaan Allah itu menjadi futuristik. Hai inilah yang menjadi harapan.
Kepercayaan kepada Yesus, hasrat kepada-Nya, penyerahan diri kepada-Nya menyebabkan kehidupan ilahi ini lahir dalam diri kita, tumbuh seria mencapai seluruh kepenuhan-Nya. Dia menjadikan kita menjadi manusia baru. Sungguh tepat apa yang
dikatakan Injil pada hari ini “yang terkecil dalam Kerajaan surga lebih besar daripada Yohanes” (Yoh 11:11) Kita tidak perlu mengirim utusan kepada Yesus seperti rasul Yohanes dan menanyakan apakah Dia yang kita nantikan itu atau orang lain? Yesus adalah Mesias kita, Dia adalah juru selamat kita. Kita lelah menerima Yesus, kita tidak menolak Dia.
Yang menjadi persoalan sekarang ialah apakah kita orang kristen menjadi harapan bagi dunia sekitar kita akan suatu masa depan yang lebih baik? Apakah kita menjadi dorongan bagi orang lain untuk lebih teguh percaya kepada Allah? Bukankah kita telah mendapatkan kepenuhan harapan kita dalam Kristus? Apakah kita memberi harapan kepada orang sakit, putus asa, orang-orang yang kurang diperhatikan dan disisihkan dengan perbuatan dan kata-kata kita? Apakah kita menjadi pembawa damai? Kita harus menjadi saksi bahwa Yesus adalah kepenuhan harapan kita. Jika kita belum melihat panggilan kita untuk membawa terang dalam dunia yang gelap ini, mungkin hai ini disebabkan karena Yesus belum memenuhi hati kita, Dia belum menjadi pengharapan kita. Dia belum menjadi kepercayaan kita.
Jadi sebenarnya sebagai orang yang beriman kepada Kristus yang punya sikap religiositas yang tinggi dan juga mempunyai suatu harapan yang tinggi kita diharapkan mampu mengatasi kepincangan-kepincangan yang terjadi dalam hidup bermasyarakat. Kita mulai dari hal-hal yang praktis misalnya dari cara berbicara, cara bergaul atau berteman, cara berpikir dan lain-lain. Dengan demikian kita sudah memberikan harapan kepada orang lain untuk menjadikan dunia yang lebih baik.
Fr. Morizius Aritonang OFM Cap
Belum Ada Tanggapan »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan sebuah tanggapan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.