“Berjaga-jagalah senantiasa”

Desember 17, 2007 at 2:06 pm | In Jendela Alkitab | Leave a Comment

Tema: “Berjaga-jagalah senantiasa”

Minggu Adven I, Tahun A, 2 Desember 2007

 

Bacaan: Yes 2:1-5; Rm !3:11-14; Mat 24:37-44

Tidak semua orang yakin bahwa dunia mempunya akhir. Keyakinan ini tentunya mengandaikan keyakinan lain bahwa dunia tidak mempunyai awal. Paham ini dianut oleh Kaum Stoa dan Agama Hindu dengan ajaran reinkarnasinya. Mereka memandang perjalanan dunia membentuk siklus yang tak pernah habis.

Tapi bagi orang Kristen, pengakuan akan awal dan akhir dunia mendapat pendasarannya dalam Kitab Suci. Allah, yang kita yakini berada di luar ruang dan waktu, telah menciptakan dunia dari ketiadaan. Dengan menciptakan dunia, mulailah sejarah berjalan. Kemudian, Yesus dengan amat yakin mengatakan demikian: “Tentang akhir dunia, tak seorang pun tahu, malaikat pun tidak, Anak pun tidak, hanya Bapa yang tahu” (Mat 24:36). Kita sebagai orang Kristen meyakini sejarah berjalan secara linier, berawal dari Allah dan berpuncak/berakhir pada Allah. Kita tentu yakin bahwa Kitab Suci sebagai buku iman dan berisi Wahyu Allah, benar. Tentang hal ini St. Thomas Aquinas, pujangga gereja itu, berkata: “Menurut logika manusia dunia ini kekal, tak mempunyai awal dan akhir; tapi karena Kitab Suci dengan amat tegas mengatakan bahwa dunia mempunyai awal dan akhir, saya percaya.”

Banyak orang bertanya: “Kapankan akhir dunia tiba?” Yesus sudah mengatakan: “Hanya Bapa yang tahu.” (Mat 24:36) Tapi dalam perjalanan sejarah, toh terdapat beberapa tokoh yang menganggap diri nabi dan meramalkan tibanya akhir zaman. Mereka mencoba menerjemahkan lambang-lambang dan angka-angka yang terdapat dalam Kitab Suci. Sebut saja William Muller. Ia meramalkan akhir zaman berdasarkan nubuat Daniel mengenai pembersihan Bait Allah di Yerusalem setelah 2300 hari (lih. Dan. 8:14). Miller menafsirkan 2300 hari sebagai 2300 tahun. Ia menghitung mulai tahun 457 sM, masa Daniel, dan diperoleh angka 1843. Ramalan Miller membuat panik warga Boston, AS. Banyak orang menunggu dengan harap-harap cemas. Tapi nyatanya tahun 1843 berlalu biasa saja. Hingga kini, sejarah dunia tetap berjalan. Beberapa tahun lalu, Mangapin Sibuea menggegerkan Indonesia dengan ramalan akhir zamannya. Orang-orang yang percaya dengan ramalan itu menggabungkan diri dengan Sibuea setelah menjual seluruh hartanya seturut perintah Sibuea, Mereka menunggu. Tapi, akhir zaman juga tak kunjung datang. Malah Sibuea ditangkap oleh pihak yang berwajib.

Kita sebagai orang Kristen juga menantikan datangnya akhir zaman. Penantian kita, oleh bunda gereja kudus, disatukan dalam masa khusus yaitu Adven. Penantian menjadi tema sentral masa Adven yakni penantian akan parusia dan kelahiran Yesus. Parusia (yun. Parousia) berarti kehadiran, kedatangan, kunjungan resmi penguasa. Dalam I Tes. 4:15 dan I Kor. 15:23), kata parusia sudah dipakai untuk meyebutkan kedatangan Yesus kembali dalam kemuliaan pada akhir zaman untuk mengadili dunia (lih. Mat. 24:39; 25:31-46). Pada waktu itu, Kristus akan tampak untuk kedua kalinya. Orang-orang Kristen menantikan dengan sabar. Injil-injil Sinoptik menggabungkan penantian akhir zaman ini dengan peringatan untuk berjaga-jaga. Parusia menjadi tekanan pertama. Sementara tekanan kedua adalah penantian akan kelahiran Yesus (peringatan kelahiran Yesus). Parusia menjadi penantian jangka panjang sementara kelahiran sebagai penantian jangka pendek.

Penantian memang menumbuhkan sikap cemas sekaligus gembira. Seperti seorang ibu muda yang menantikan kelahiran anak pertamanya diliputi rasa rindu, cemas dan gembira, demikianlah suasana/nuansa pada masa Adven. Nasehat paling bijak untuk menjalani masa ini adalah berjaga-jaga/waspada.

Dalam bacaan I, Yesaya dengan amat optimis menubuatkan bahwa pada hari terakhir segala bangsa akan berduyun-duyun ke gunung Tuhan. Di sana, Tuhan akan mengajarkan jalan-jalan-Nya dan menjadi hakim atas seluruh umat manusia. Tombak akan ditempa menjadi mata bajak, dan pedang menjadi pisau pemangkas. Dengan ini mau dikatakan bahwa perang dan segala bentuk kekerasan lainnya tak akan ada lagi. Tapi untuk sampai pada hari terakhir ini, kejadian-kejadian mengerikan akan terjadi. Yesus, dalam Mat 24:3-14; 29-36 melukiskannya demikian: “Mesias-mesias palsu akan bermunculan dan menyesatkan banyak orang; perang terjadi di mana-mana, pengikut Kristus disiksa dan dibunuh secara keji. Sesudah itu, matahari akan menjadi gelap, bulan tak lagi bercahaya, bintang-bintang berjatuhan dari langit. Setelah semua ini terjadi, Anak Manusia akan datang di atas awan-awan di langit dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya.”

Dalam sejarah dunia, sebagian dari ramalan Yesus ini sudah terjadi. Pada masa kekaisaran Roma, khususnya abad pertama sampai abad ketiga masehi, begitu banyak orang Kristen mati demi mempertahankan imannya. Lalu pada awal abad dua puluh ini, perang dunia I dan II menjadi catatan hitam dalam sejarah dunia. Berjuta-juta orang mati.

Pada zaman sekarang, banyak berita memprihatinkan tentang situasi dunia saat ini, sebut saja ancaman senjata nuklir, perang tak berkesudahan antara Israel dan Palestina, ancaman terorisme, ozon yang semakin bolong-bolong, pemanasan global, krisis energi dunia dan aneka bencana alam yang datang silih berganti.

Sungguh, dunia semakin tua dan rapuh, sementara para ilmuwan dan antariksawan belum menemukan planet yang cocok sebagai tempat baru bagi umat manusia. Kemanakah manusia akan pergi ? Melihat situasi ini, amat relevanlah pesan Yesus dalam Injil hari ini: “Berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu akan datang” (Mat 24:42). Bagi kita orang Kristen, akhir zaman harus dilihat sebagai anugerah karena kita akan dipersatukan kembali kepada Allah dalam nama Yesus. Sikap berjaga-jaga yang dimaksud oleh Yesus adalah sikap tekun dan setia menjalankan segala perintah-Nya dalam hidup sehari-hari, menghormati alam ciptaan dengan tidak mengeksploitasinya secara sewenang-wenang, mencintai sesama dan mengarahkan hati kepada Allah. Saat berjaga-jaga adalah saat menata ulang hubungan kita dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan alam ciptaan. Yesus menjadi teladan kita. Dalam hidup-Nya, Yesus mempunyai relasi sangat intim dengan Allah. Ini nyata dalam doa-doa dan karya-Nya. Yesus selalu mengandalkan Allah. Kepedulian Allah pada umat manusia yang dikuasai dosa diteruskan Yesus lewat kepeduliaan-Nya pada orang-orang kecil dan dicap pendosa oleh masyarakat. Yesus membuktikan bahwa dunia yang berbeda dan dijiwai oleh semangat Ilahi itu mungkin terjadi.

Yesus membuatnya dalam hidup konkret sehari-hari. Kita sebagai orang Kristen dipanggil untuk meniru Yesus. Paulus dalam bacaan II mengajak kita untuk bangun dari tidur, meninggalkan perbuatan gelap dan mengenakan senjata terang. Semua ini harus nyata dalam hidup sehari-hari, dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana di tempat kita berada. Dengan melaksanakan semua ini, kita siap, setiap saat, menyambut datangnya Anak Manusia.

Fr. John Paul Saragih OFM Cap

Belum Ada Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.