Kristus Cahaya Dunia

Desember 29, 2007 at 10:45 am | In Jendela Alkitab | Leave a Comment

Tahun. A

24 Desember

Natal Malam

Bacaan: Yes 9: 1-6; Tit 2: 11-14; Luk 2: 1-14

————————————————————————————————————

Kristus Cahaya Dunia

“Hari ini telah lahir bagimu juru selamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud (Luk 2: 11)”.

Ada sebuah cerita mengenai tawanan Nazi. Pria yang malang itu disiksa setiap hari. Suatu hari mereka memindahkannya ke sel lain. Sebelumnya dia disekap di antara empat dinding yang sangat kokoh dan rapat, di mana tidak ada cahaya yang masuk ke dalam. Dalam sel yang baru itu, ada sebuah lubang yang dapat dipakai untuk melihat langit yang biru di siang hari dan bintang-bintang di malam hari. Pria malang itu sangat gembira. Dia menulis surat kepada keluarganya, dia menceritakan keberuntungannya. Karena di dalam sel yang gelap itu ia masih bisa melihat cahaya dari luar. Pria itu merasa sangat senang dan bersukacita.

Dalam Injil Lukas yang baru saja kita dengar tadi, kita dapat menemukan adanya tiga tahapan sejarah kelahiran Yesus, yakni: pertama, laporan tentang peristiwa sejarah dengan disebutkannya nama kaisar Agustus; kedua, mengungkapkan tafsiran Gereja Purba mengenai kejadian tersebut (peristiwa kelahiran Yesus); dan tahapan yang ketiga adalah tambahan dari penginjil.

Perjalanan Yusuf dan Maria ke Betlehem menaati perintah kaisar, dan peristiwa kelahiran Yesus yang terjadi dalam keadaan miskin merupakan inti kisah Injil Lukas pada malam ini. Peristiwa kelahiran Yesus ini merupakan cahaya dan harapan baru bagi umat beriman yang menantikan kedatangan Sang Juru Selamat. Cahaya (terang) adalah lambang kehadiran Kristus di tengah-tengah umat-Nya. Istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan keilahian Yesus.

Dikatakan demikian: “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Allah bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan (Luk 2: 9)”.Warta malaikat kepada gembala ini ditandai dengan “sinar kemuliaan Tuhan” dan rasa gentar para gembala di hadapan Allah, suatu keajaiban, dan ini merupakan penggenapan nubuat-nubuat nabi Mikha.

Semua ini membuat peristiwa kelahiran Yesus menjadi suatu yang istimewa, yaitu bahwa mulai saat itu Tuhan hadir di tengah dunia, dan di tengah umat manusia. Kini saatnya tiba bahwa Tuhan datang untuk menyertai kita sebagai Imanuel.

Telah tiba saatnya Allah melaksanakan karya penebusan-Nya, karya yang telah dirancang-Nya sejak awal mula. Sejak manusia pertama (Adam dan Hawa) itu memilih kegelapan (dosa) dari pada terang (kehidupan yang berasal dari Allah); Mengutamakan ciptaan dari Penciptanya.

Ketika sesudah banyak abad dosa itu mencapai kepenuhannya, maka Allah dalam keputusan-Nya seakan-akan mengatakan, “sekarang telah tiba saatnya untuk menyatakan belas kasihan-Ku dengan umat manusia, sekarang akan Kuhadirkan di tengah-tengah mereka manusia yang sempurna. Dia akan menanggung segala dosa, segala duka dan derita, bahkan kematian yang ngeri akan dialami-Nya, mewakili bangsa manusia yang terjerat dalam dosa dan yang tidak berdaya meloloskan diri dari jerat itu”.

Maka terjadilah pada suatu malam seperti malam ini, di waktu gelap; lahirlah Dia yang dinanti-nantikan. Dia yang akan meremukkan kepala ular; sumber dosa; yang akan menghancurkan dosa dan maut, memberi silih yang sempurna atas dosa Adam serta keturunannya.

Di tengah kegelapan malam itu, mulailah bersinar suatu Cahaya, Cahaya yang berasal dari “kemuliaan Tuhan”. Cahaya kemuliaan itu tampak bersama para malaikat yang mewartakan kabar sukacita kepada para gembala. Cahaya itu juga tampak melalui bintang-bintang ajaib yang mengantar para sarjana dari Timur.

Kedua Cahaya ini bersinar,untuk mempertemukan para gembala dan para sarjana dengan Sang Cahaya yang ada di kandang. Sebagai mana dikatakan oleh Yohanes dalam Injilnya, “Akulah terang dunia; barang siapa mengikuti Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yoh 8: 12)”.

Setelah kita membayangkan, melihat, bagaimana cahaya itu menerangi dan mengalahkan kegelapan malam, sekarang saya mau mengajak anda sekalian untuk sebentar bermenung dan berimajinasi bagaimana seandainya di tempat kita pada malam ini tidak ada cahaya. Apakah kita saling mengenali wajah orang lain yang ada di sebelah kiri dan sebelah kanan, di depan dan di belakang anda? Seandainya anda diminta untuk berjalan keluar dari ruangan ini, dan diminta untuk mengambil sandal anda masing-masing yang anda letakkan di depan pintu masuk itu, apakah anda masih dapat mengenali sandal anda dalam kegelapan itu ? Masih dapatkah anda memilihnya dengan tepat?

Ada dua macam kegelapan yang dapat menguasai kita: yang pertama adalah kegelapan yang berada di luar diri kita, sebagaimana yang telah kita bayangkan bersama-sama tadi. Kegelapan yang seperti ini dapat dengan mudah kita kenali karena nampak dan dapat dilihat dengan mata telanjang. Yang kedua adalah kegelapan yang berasal dari dalam diri kita, yakni yang ada di dalam hati manusia, yang olehnya manusia melakukan tindakan yang tidak terpuji. Misalnya, membunuh, memerkosa, memfitnah, iri hati atas keberhasilan orang lain, dan lain-lain. Kegelapan yang berasal dari hati manusia ini selalu menimbulkan tindakan kejahatan.

Pada malam hari ini kita telah menemukan terang itu, yakni Kristus sebagai terang dunia, di mana kedatangan-Nya ke dunia menghalau kegelapan itu. Semoga terang Kristus ini menembus hati kita, di mana kegelapan itu berada. Sehingga kita sendiri pun menjadi cahaya bagi semua orang. Bila tahanan Nazi itu, merasa gembira dan bersukacita karena dapat melihat cahaya dari dalam tahanannya yang baru itu; bila para gembala dan para sarjana dari Timur telah melihat terang sebagai petunjuk bagi mereka. Maka pertanyaan bagi kita semua adalah sudah adakah cahaya di dalam hati kita? Setelah menemukan sumber cahaya itu, mampukah kita menjadi cahaya bagi orang lain? Yesus adalah sumber terang dan cahaya itu sendiri – pada malam ini kita telah menemukan-Nya. Kiranya terang itu sungguh mampu menguasai kehidupan kita sehingga hidup kita juga menjadi sumber terang dan bercahaya bagi sesama kita, sehingga orang yang menemukan itu dapat bergembira dan bersukacita bersama kita. Amin

******

Allah Begitu Mencintai Manusia

Desember 29, 2007 at 10:44 am | In Jendela Alkitab | Leave a Comment

Tahun A

25 Desember

Misa –Natal Pagi

Bacaan: Yes 52: 7-10; Ibr 1:1-6; Yoh 1:1-18

————————————————————————————————————

Allah Begitu Mencintai Manusia

Pada hari ini kita sungguh berbahagia karena sang Penyelamat lahir untuk kita. Hari raya Natal adalah hari raya di mana Allah menyamakan diri-Nya dengan manusia. Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Hari Raya Natal merupakan hari raya di mana Allah begitu mencintai umat manusia. Melalui hari raya Natal kita semakin mengenal Allah dalam diri Yesus Kristus. Allah begitu mencintai kita umat manusia yang diciptakan-Nya seturut gambar dan rupa-Nya.

Melalui bacaan pertama, Nabi Yesaya menyerukan kedatangan Yesus Kristus sebagai pembawa berita yang mengabarkan berita damai dan memberikan kabar baik yang menggambarkan berita keselamatan. Yesus yang lahir ditampilkan sebagai tokoh Allah yang hadir di dunia. Yesus membawa kabar keselamatan Allah bagi manusia. Seluruh dunia telah menyambut kedatangan Yesus Kristus yang telah dijadikan Allah.

Kita sudah sering mendengar bacaan Injil ini, secara khusus pada waktu hari raya Natal. Bahkan Injil hari ini akan sulit kita pahami kalau kita merenungkan dengan pikiran kita. Tetapi, kita akan lebih mudah memahami Injil ini, kalau kita berangkat dari keyakinan atau kepercayaan kita akan Allah.

Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Artinya, Allah yang adalah Firman itu sendiri, tinggal di antara manusia. Allah hadir dalam kehidupan manusia melalui putra-Nya Yesus Kristus. Allah yang hadir di dunia melalui Yesus Kristus sama seperti manusia. Allah yang dilahirkan, disusui, digendong dan lain sebagainya, sama seperti manusia. Allah seolah-olah tidak puas dengan menciptakan manusia menurut citra-Nya, tetapi Dia mau sekaligus menjadi manusia itu sendiri dalam diri Yesus Kristus. Singkatnya, Allah yang adalah Firman hadir di dunia melalui anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus yang lahir hari ini. Kelahiran Yesus menunjukkan pada kita kemanusiaan-Nya. Demikian juga ketika Yesus bangkit pada hari paskah menunjukkan bahwa Dia adalah Allah.

Kalau Allah sendiri begitu mencintai kita, maka manusia seharusnya lebih mencintai sesama manusia lainnya. Kita harus lebih bisa senasib dengan mereka. Namun, yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Sesama manusia tidak lagi semartabat di hadapan Allah.

Pada jaman sekarang ini banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara kita ini. Mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, pencurian dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang berbaur anarkis dan bahkan hukuman tembak mati bagi manusia. Hidup manusia yang berasal dari Allah sendiri dan Dia sendiri yang berhak atas hidup tersebut, sudah mulai dikuasai manusia. Manusia seolah-olah berkuasa atas hidup manusia. Peristiwa ini masih hangat bagi kita, ketika Tibo dan kawan-kawannya ditembak mati. Kuasa Allah semakin dipertanyakan. Padahal Allah begitu mencintai manusia, sampai Dia datang ke dunia ini melalui putra-Nya Yesus Kristus yang kita rayakan hari ini.

Dia akan menjadi pembawa suka cita dan keselamatan bagi manusia, karena begitu cinta-Nya akan ciptaan-Nya, terutama manusia yang secitra dengan-Nya. Cinta kasih-Nya ditunjukkannya, ketika Dia tergantung di salib.

Peristiwa kelahiran Yesus hari ini menjadi suatu permenungan bagi kita umat Allah yang dicintai-Nya. Dia rela mati disalib demi kita dan dosa-dosa kita. Bagi Allah semua manusia itu sama martabatnya di hadapan-Nya. Apakah itu, pegawai, pejabat, jenderal, orang miskin adalah makhluk ciptaan-Nya yang bermartabat. Pada pesta Natal ini, kita merayakan cinta Allah yang tak terbatas dan martabat manusia begitu dicintainya. Pesta Natal merupakan penghormatan dan pengakuan paling tinggi terhadap martabat manusia.

Oleh karena itu, pesta Natal ini akan bermakna apabila diungkapkan cinta itu kepada Allah dan kepada sesama manusia. Tanpa hal itu dilaksanakan bagaimanapun meriahnya Natal itu, ia kehilangan maknanya. Natal yang kita rayakan hari ini bukan sekedar perayaan liturgi yang begitu meriah, tetapi Natal menjadi cinta yang terjadi dalam kehidupan manusia sampai Dia rela datang ke dunia ini melalui putra-Nya.

Peristiwa Natal ini kiranya menjadi perwujudan cinta di dalam keluarga, di dalam lingkungan, bahkan cinta bagi siapa saja. Cinta itu bisa diungkapkan melalui memberi diri, memberi perhatian, memberi jasa, memberi apa yang kita miliki. Dengan pemberian itu, kita mengambil bagian dalam pemberian Allah kepada manusia. Melalui pemberian kita itu, kita mau menerima dan mengimani kehadiran Allah melalui Yesus Kristus di dunia. Berarti kita mau mengubah diri kita pada hari raya Natal ini. Amen.

*********

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.