Allah Begitu Mencintai Manusia
Desember 29, 2007 at 10:44 am | In Jendela Alkitab | Leave a CommentTahun A
25 Desember
Misa –Natal Pagi
Bacaan: Yes 52: 7-10; Ibr 1:1-6; Yoh 1:1-18
————————————————————————————————————
Allah Begitu Mencintai Manusia
Pada hari ini kita sungguh berbahagia karena sang Penyelamat lahir untuk kita. Hari raya Natal adalah hari raya di mana Allah menyamakan diri-Nya dengan manusia. Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Hari Raya Natal merupakan hari raya di mana Allah begitu mencintai umat manusia. Melalui hari raya Natal kita semakin mengenal Allah dalam diri Yesus Kristus. Allah begitu mencintai kita umat manusia yang diciptakan-Nya seturut gambar dan rupa-Nya.
Melalui bacaan pertama, Nabi Yesaya menyerukan kedatangan Yesus Kristus sebagai pembawa berita yang mengabarkan berita damai dan memberikan kabar baik yang menggambarkan berita keselamatan. Yesus yang lahir ditampilkan sebagai tokoh Allah yang hadir di dunia. Yesus membawa kabar keselamatan Allah bagi manusia. Seluruh dunia telah menyambut kedatangan Yesus Kristus yang telah dijadikan Allah.
Kita sudah sering mendengar bacaan Injil ini, secara khusus pada waktu hari raya Natal. Bahkan Injil hari ini akan sulit kita pahami kalau kita merenungkan dengan pikiran kita. Tetapi, kita akan lebih mudah memahami Injil ini, kalau kita berangkat dari keyakinan atau kepercayaan kita akan Allah.
Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Artinya, Allah yang adalah Firman itu sendiri, tinggal di antara manusia. Allah hadir dalam kehidupan manusia melalui putra-Nya Yesus Kristus. Allah yang hadir di dunia melalui Yesus Kristus sama seperti manusia. Allah yang dilahirkan, disusui, digendong dan lain sebagainya, sama seperti manusia. Allah seolah-olah tidak puas dengan menciptakan manusia menurut citra-Nya, tetapi Dia mau sekaligus menjadi manusia itu sendiri dalam diri Yesus Kristus. Singkatnya, Allah yang adalah Firman hadir di dunia melalui anak-Nya yang tunggal, yaitu Yesus Kristus yang lahir hari ini. Kelahiran Yesus menunjukkan pada kita kemanusiaan-Nya. Demikian juga ketika Yesus bangkit pada hari paskah menunjukkan bahwa Dia adalah Allah.
Kalau Allah sendiri begitu mencintai kita, maka manusia seharusnya lebih mencintai sesama manusia lainnya. Kita harus lebih bisa senasib dengan mereka. Namun, yang sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari adalah manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Sesama manusia tidak lagi semartabat di hadapan Allah.
Pada jaman sekarang ini banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi di negara kita ini. Mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, pencurian dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa yang berbaur anarkis dan bahkan hukuman tembak mati bagi manusia. Hidup manusia yang berasal dari Allah sendiri dan Dia sendiri yang berhak atas hidup tersebut, sudah mulai dikuasai manusia. Manusia seolah-olah berkuasa atas hidup manusia. Peristiwa ini masih hangat bagi kita, ketika Tibo dan kawan-kawannya ditembak mati. Kuasa Allah semakin dipertanyakan. Padahal Allah begitu mencintai manusia, sampai Dia datang ke dunia ini melalui putra-Nya Yesus Kristus yang kita rayakan hari ini.
Dia akan menjadi pembawa suka cita dan keselamatan bagi manusia, karena begitu cinta-Nya akan ciptaan-Nya, terutama manusia yang secitra dengan-Nya. Cinta kasih-Nya ditunjukkannya, ketika Dia tergantung di salib.
Peristiwa kelahiran Yesus hari ini menjadi suatu permenungan bagi kita umat Allah yang dicintai-Nya. Dia rela mati disalib demi kita dan dosa-dosa kita. Bagi Allah semua manusia itu sama martabatnya di hadapan-Nya. Apakah itu, pegawai, pejabat, jenderal, orang miskin adalah makhluk ciptaan-Nya yang bermartabat. Pada pesta Natal ini, kita merayakan cinta Allah yang tak terbatas dan martabat manusia begitu dicintainya. Pesta Natal merupakan penghormatan dan pengakuan paling tinggi terhadap martabat manusia.
Oleh karena itu, pesta Natal ini akan bermakna apabila diungkapkan cinta itu kepada Allah dan kepada sesama manusia. Tanpa hal itu dilaksanakan bagaimanapun meriahnya Natal itu, ia kehilangan maknanya. Natal yang kita rayakan hari ini bukan sekedar perayaan liturgi yang begitu meriah, tetapi Natal menjadi cinta yang terjadi dalam kehidupan manusia sampai Dia rela datang ke dunia ini melalui putra-Nya.
Peristiwa Natal ini kiranya menjadi perwujudan cinta di dalam keluarga, di dalam lingkungan, bahkan cinta bagi siapa saja. Cinta itu bisa diungkapkan melalui memberi diri, memberi perhatian, memberi jasa, memberi apa yang kita miliki. Dengan pemberian itu, kita mengambil bagian dalam pemberian Allah kepada manusia. Melalui pemberian kita itu, kita mau menerima dan mengimani kehadiran Allah melalui Yesus Kristus di dunia. Berarti kita mau mengubah diri kita pada hari raya Natal ini. Amen.
*********
Belum Ada Tanggapan »
RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik
Tinggalkan sebuah tanggapan
Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.