YESUS

Januari 8, 2008 at 2:46 am | In Artikel | Leave a Comment

YESUS

Kepenuhan Keselamatan dalam Sejarah 

(Dalam rangka menyambut Pesta Agung Kelahiran Yesus Kristus, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) St. Yohanes-Pematangsiantar menyelenggarakan seminar ilmiah bertajuk Natal, 15 Desember 2007 lalu. Demi mendukung dialog Protestan-Katolik, seminar ini menghadirkan dua tokoh dan pakar dalam bidang Kitab Suci Perjanjian Lama, Pastor Serpulus Tano Simamora, Lic.S.S. dan Pdt. Bonar H. Lumbantobing, M.Th. sebagai narasumber. Berikut ini adalah presentasi dari Pastor Tano Simamora, Lic.S.S., dosen Kitab Suci di STFT St. Yohanes, Pematangsiantar, yang disarikan oleh panitia seminar.)

Yesus adalah kepenuhan keselamatan dalam sejarah. Mengapa tidak dipakai terminologi ’sejarah keselamatan’? Istilah ’sejarah keselamatan’ tidak dipilih karena bersifat kisah atau cerita keselamatan, yang diawali dari penciptaan, perbudakan, eksodus, Perjanjian Sinai, Tanah Terjanji, pembuangan, janji penyelamatan, kelahiran Penyelamat, sengsara dan kematian, kebangkitan, turunnya Roh hingga lahirnya Gereja. Mengapa bukan istilah ‘drama salutis‘ atau ‘oiconomia salutis‘? ‘Drama salutis‘ lebih berciri permainan, lakon atau acting. Dan, ‘oiconomia salutis‘ pun tidak dipakai karena mengandung pikiran ekonomistis. Sedangkan terminologi ‘keselamatan dalam sejarah’—yang dipinjam dari istilah teolog Oscar Cullmann—menjadi pilihan dalam tema tulisan ini, karena yang hendak ditekankan adalah unsur historisnya.

Keselamatan itu konkret dan historis. Namun kini makna keselamatan mengalami pengaburan. Keselamatan sering terlalu di-spiritualisasi-kan, misalnya penebusan dosa, pengampunan, tobat, datangnya Kerajaan Allah, dst. Martunis, bocah 8 tahun, selamat dari bencana tsunami di Aceh; factum itu berarti Martunis tidak tenggelam di tengah laut. Itulah keselamatan yang konkret dan menyejarah, peralihan ex nihilo ad esse (aus Nichtssein zum Sein), dari tiada kepada ada.

 Keselamatan dalam Perjanjian Lama

Umumnya orang Kristen mengakui Abraham sebagai orang yang saleh atau bapa orang beriman. Dalam Ul. 26:5b-9 orang Israel mengakui, “Bapaku seorang Aram…, pengembara….” Abraham pars pro toto bagi pengembara. Pengembara itu hidup tanpa jaminan tanah dan tempat tinggal serta tanpa sejarah. Eksistensi kaum pengembara (nomad) inferior terhadap orang menetap (sedenter). Karena itu terjadilah clash of civilization antara kaum sedenter dan nomad, antara kaum agrikultur dan pengembara (bdk. kisah Kain-Habel; Kej 4:2-16).

Ternyata kaum pengembara bertahan hidup. Situasi itu dialami sebagai keselamatan. Mereka mendapat jaminan eksistensi melalui perolehan tanah dan keturunan (Kej 12:1b-3). Mengapa ini bisa terjadi? Tuhanlah yang menghendaki demikian. Tuhanlah yang memilih mereka. Dari sini muncul ide ‘Bangsa Terpilih’. YHWH menyelamatkan yang lemah!

Momen besar dan penting yang lain dalam pemgalaman keselamatan itu adalah peristiwa Eksodus (keluar dari Mesir). Eksodus menyimpan dua hal (factum historicum): pertama, akarnya adalah peristiwa transhumance, yakni para penggembala harus berpindah jauh; kedua, invasi kaum Hyksos dan pemberontakan kelompok budak di Mesir (kelompok Eksodus?). Dalam sejarah Mesir, ada kelompok budak yang sulit dikendalikan yang disebut ‘apiru, habiru, khapiru, yang mirip dan kemungkinan menunjuk pada kata ‘ibrani, hibrani. Mereka melarikan diri dari Mesir ke padang gurun. Kelompok itu akhirnya selamat dalam pengembaraan. Mereka meyakini bahwa YHWH membebaskan dan menyertai! Teks programmatis Eksodus ialah Kel 3:7b-10. Teks inilah salah satu yang kemudian menjadi dasar fundamental teologi Pembebasan.

Tanah Terjanji adalah tujuan Israel sebagai jaminan eksistensi. Dalam kisah biblis (Yosua) diceritakan bagaimana Israel menaklukkan lawan secara sim salabim. Jika dibandingkan pada masa sekarang, tentara sekutu (AS), yang lengkap dengan persenjataan teknologi super canggih, ternyata kesulitan dan begitu lama menaklukkan Irak. Sesungguhnya Israel masuk ke Palestina dalam rentang waktu lama. Israel terbentuk karena penaklukan dan infiltrasi damai. Maka, Israel dapat dikatakan terbentuk dari konfederasi suku-suku bangsa sekitar amfiktioni (suatu komunitas bersama yang bersifat religius dan sakral di sekitar tempat suci).

Tradisi Yusuf (Kej 37-49) mengatakan bahwa ada 12 suku Israel. Mereka adalah anak-anak Yakub Bapa Leluhur dan ditambah gabungan dari suku-suku lain yang mereka lewati. Hakim-hakim muncul untuk mempertahankan ancaman sporadis bangsa-bangsa tetangga. Ketika muncul bangsa Filistin yang semakin kuat, maka Israel pun didirikan sebagai monarki dengan raja pertama Saul dan dilengkapi dengan organisasi militer yang lebih solid.

Ketika imperium adidaya (Assyria-Babilon di utara dan Mesir di selatan) seimbang, maka Israel aman dan makmur. Namun dalam kemakmuran itu kemudian timbul ketidakadilan, yang merupakan bentuk “kapitalisme pertama”. Jurang ‘penindas‘-’tertindas‘ semakin merebak. Keyakinan akan YHWH perlahan hilang, karena cara beriman (modus credendi) tidak sepadan dengan cara hidup (modus vivendi). Ibadat mereka berlangsung khidmat dan syahdu di dalam rumah ibadat, tetapi di luar mereka berbuat kejahatan dan dosa.

Kebobrokan inilah yang dikritik para nabi. Suara orang-orang yang lemah (tertindas) itu adalah suara hati bangsa yang diungkapkan para nabi. Nabi adalah juru bicara YHWH, yang melihat realitas seturut “kacamata” ilahi. Di Israel tidak hadir lagi keselamatan! Nabi terus berteriak tentang keadilan, kesetiaan terhadap YHWH. Mereka adalah pejuang “Hak Asasi Manusia”. Karena ketidaksetiaan akan Yahwisme asali, bangsa Israel hancur dan dibuang.

Keselamatan dalam Perjanjian Baru

Dalam PL, YHWH bertindak dalam sejarah lewat peristiwa dan tokoh historis. Dalam PB, YHWH sendiri masuk dalam sejarah inkarnasi (verbum caro factum est, Yoh 1:14). Jadi, perbedaan PL dan PB terletak dalam tindakan keselamatan dalam sejarah; dulu Allah berbicara lewat para nabi, sekarang lewat Anak-Nya sendiri.

Yesus kerygma (menurut ajaran Gereja) dan Yesus historis sering menjadi persoalan. Persoalan itu berupa bahaya spiritualisasi, mitosisasi, yang menguap di ruang rohani hampa. Seorang teolog, Rudolf Bultmann, mengatakan bahwa perlu “demitologisasi” Perjanjian Baru.

Yesus adalah keselamatan dalam sejarah. Historisitasnya nampak dalam dua peristiwa berikut: pertama, sejarawan Josefus mengatakan Yesus dieksekusi mati pada tahun kira-kira 30 M; kedua, pengikut-Nya mengaku: Dia bangkit! Lalu, muncul pertanyaan orang Kristen perdana: siapakah Yesus ini? Jawabannya ialah: “Dia Anak Allah! Dia Allah.” Bagaimana dan kapan Dia menjadi Anak Allah atau Allah? Dari penelusuran teologis ditemukan bahwa itu terjadi pada pembangkitan-Nya (Paulus; dalam 1 Kor 15:3-4 dan Flp 2:6-11), saat pembaptisan-Nya (Mrk 1:9-11), sejak Abraham (Mat 1:1-17), sejak kelahiran-Nya (Luk 2:5-14), dan sejak awal-mula (Yoh 1:1-3).

Puncak refleksi injili adalah Yesus Allah menjadi manusia (Yoh 1:14). Elie Wiesel, seorang yang selamat dari pembantaian Nazi di kamp konsentrasi Auschwitz, menuturkan bahwa ketika seorang anak kecil yang digantung oleh Nazi meronta-ronta, orang-orang berteriak: Di mana Allah? Wiesel menjawab: Allah ada dalam anak kecil yang tergantung itu. Dia tergantung di tiang gantungan. Allah menjadi mahalemah di Kayu Salib dan di Palungan. Allah menjadi manusia, agar manusia menjadi Allah, dengan cara Yesus dan bukan cara Adam-Hawa.

Yesus Allah dan Prinsip Deseleksi

Dalam dunia infrahuman terjadi prinsip seleksi alam: bertahan-punah, memunahkan-dipunahkan, memangsa-dimangsa. Sifat brutalitas dan animalitas sangat menonjol. Prinsip yang berlaku the struggle of life dan the survival of the fittest.

Namun bagi Allah terjadi prinsip deseleksi. Yang paling lemah berhak hidup. Itu terlihat ketika pengembara hidup stabil dengan tanah dan keturunan (Abraham). Budak mengalami kemerdekaan (Eksodus). Bangsa kecil berhak hidup di negerinya (Tanah Terjanji). Kaum lemah berhak di tengah masyarakat dalam hal sosio-ekonomiko-kultural-politis (para Nabi).

Yesus yang inkarnasi pun menunjukkan prinsip deseleksi itu. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dan manusia yang menjadi Allah. Seruan Yesus ialah ‘Engkau berhak hidup!’ Seruan itu terlihat dalam aksi-Nya ketika memberi makan (pergandaan roti), menerima pendosa, merangkul yang terpinggirkan, menyembuhkan penyakit, dan membangkitkan orang mati.

Maka dalam dunia human seharusnya berlaku prinsip deseleksi: yang paling lemah berhak hidup. Kini bukan lagi the survival of the fittest, melainkan the survival of the weakest. Manusia adalah animal rationale (binatang yang punya rasio). Animalitas (brutalitas) mesti dikuasai oleh rasionalitas.

YHWH dalam diri Yesus menyelamatkan duinia secara konkret dan historis. YHWH dan Yesus adalah prinsip deseleksi. Yesus adalah manifestasi yang ilahi menjadi yang paling manusiawi. Setiap yang manusiawi selalu berarti yang paling ilahi.

Iman Kristiani adalah Keselamatan dalam Sejarah

Keselamatan itu harus konkret, hic et nunc (di sini dan kini). Orang Kristen meyakini bahwa tubuh mistik Kristus (Gereja) merupakan perwujudan inkarnasi keselamatan Yesus. Karena itu perlu didengungkan seruan terhadap sesama: gaudium et spes (kegembiraan dan harapan), lumen gentium (terang bangsa-bangsa), dan fraternitas mondialis (persaudaraan mendunia).

Pada masa sekarang ini masih terbentang jurang antara yang kuat dan yang lemah. Aneka ketegangan (ketidakselamatan) tetap berlangsung di depan mata, antara lain mayoritas dan minoritas (etnis, agama), penguasa dan rakyat (KKN), kaya dan miskin, destruksi dan konservasi, laki-laki dan perempuan (bias gender), dll. Lalu, apa peran orang Kristen dalam realitas itu?

Perlu dihayati bahwa iman Kristiani itu adalah keselamatan dalam sejarah. Tuhan menyejarah hadir dalam diri orang beriman yang meng-inkarnasi-kan penyelamatan itu. Itu terjadi bila modus credendi (cara beriman) orang Kristen sama dengan modus vivendi-nya (cara hidup).

 Disarikan oleh: Febryanto Silaban, OFM Cap. 

Belum Ada Tanggapan »

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan komentar

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.