Januari 20, 2008 at 10:18 am | In Artikel | Leave a Comment

YESUS

Januari 8, 2008 at 2:46 am | In Artikel | Leave a Comment

YESUS

Kepenuhan Keselamatan dalam Sejarah 

(Dalam rangka menyambut Pesta Agung Kelahiran Yesus Kristus, Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) St. Yohanes-Pematangsiantar menyelenggarakan seminar ilmiah bertajuk Natal, 15 Desember 2007 lalu. Demi mendukung dialog Protestan-Katolik, seminar ini menghadirkan dua tokoh dan pakar dalam bidang Kitab Suci Perjanjian Lama, Pastor Serpulus Tano Simamora, Lic.S.S. dan Pdt. Bonar H. Lumbantobing, M.Th. sebagai narasumber. Berikut ini adalah presentasi dari Pastor Tano Simamora, Lic.S.S., dosen Kitab Suci di STFT St. Yohanes, Pematangsiantar, yang disarikan oleh panitia seminar.)

Yesus adalah kepenuhan keselamatan dalam sejarah. Mengapa tidak dipakai terminologi ’sejarah keselamatan’? Istilah ’sejarah keselamatan’ tidak dipilih karena bersifat kisah atau cerita keselamatan, yang diawali dari penciptaan, perbudakan, eksodus, Perjanjian Sinai, Tanah Terjanji, pembuangan, janji penyelamatan, kelahiran Penyelamat, sengsara dan kematian, kebangkitan, turunnya Roh hingga lahirnya Gereja. Mengapa bukan istilah ‘drama salutis‘ atau ‘oiconomia salutis‘? ‘Drama salutis‘ lebih berciri permainan, lakon atau acting. Dan, ‘oiconomia salutis‘ pun tidak dipakai karena mengandung pikiran ekonomistis. Sedangkan terminologi ‘keselamatan dalam sejarah’—yang dipinjam dari istilah teolog Oscar Cullmann—menjadi pilihan dalam tema tulisan ini, karena yang hendak ditekankan adalah unsur historisnya.

Keselamatan itu konkret dan historis. Namun kini makna keselamatan mengalami pengaburan. Keselamatan sering terlalu di-spiritualisasi-kan, misalnya penebusan dosa, pengampunan, tobat, datangnya Kerajaan Allah, dst. Martunis, bocah 8 tahun, selamat dari bencana tsunami di Aceh; factum itu berarti Martunis tidak tenggelam di tengah laut. Itulah keselamatan yang konkret dan menyejarah, peralihan ex nihilo ad esse (aus Nichtssein zum Sein), dari tiada kepada ada.

 Keselamatan dalam Perjanjian Lama

Umumnya orang Kristen mengakui Abraham sebagai orang yang saleh atau bapa orang beriman. Dalam Ul. 26:5b-9 orang Israel mengakui, “Bapaku seorang Aram…, pengembara….” Abraham pars pro toto bagi pengembara. Pengembara itu hidup tanpa jaminan tanah dan tempat tinggal serta tanpa sejarah. Eksistensi kaum pengembara (nomad) inferior terhadap orang menetap (sedenter). Karena itu terjadilah clash of civilization antara kaum sedenter dan nomad, antara kaum agrikultur dan pengembara (bdk. kisah Kain-Habel; Kej 4:2-16).

Ternyata kaum pengembara bertahan hidup. Situasi itu dialami sebagai keselamatan. Mereka mendapat jaminan eksistensi melalui perolehan tanah dan keturunan (Kej 12:1b-3). Mengapa ini bisa terjadi? Tuhanlah yang menghendaki demikian. Tuhanlah yang memilih mereka. Dari sini muncul ide ‘Bangsa Terpilih’. YHWH menyelamatkan yang lemah!

Momen besar dan penting yang lain dalam pemgalaman keselamatan itu adalah peristiwa Eksodus (keluar dari Mesir). Eksodus menyimpan dua hal (factum historicum): pertama, akarnya adalah peristiwa transhumance, yakni para penggembala harus berpindah jauh; kedua, invasi kaum Hyksos dan pemberontakan kelompok budak di Mesir (kelompok Eksodus?). Dalam sejarah Mesir, ada kelompok budak yang sulit dikendalikan yang disebut ‘apiru, habiru, khapiru, yang mirip dan kemungkinan menunjuk pada kata ‘ibrani, hibrani. Mereka melarikan diri dari Mesir ke padang gurun. Kelompok itu akhirnya selamat dalam pengembaraan. Mereka meyakini bahwa YHWH membebaskan dan menyertai! Teks programmatis Eksodus ialah Kel 3:7b-10. Teks inilah salah satu yang kemudian menjadi dasar fundamental teologi Pembebasan.

Tanah Terjanji adalah tujuan Israel sebagai jaminan eksistensi. Dalam kisah biblis (Yosua) diceritakan bagaimana Israel menaklukkan lawan secara sim salabim. Jika dibandingkan pada masa sekarang, tentara sekutu (AS), yang lengkap dengan persenjataan teknologi super canggih, ternyata kesulitan dan begitu lama menaklukkan Irak. Sesungguhnya Israel masuk ke Palestina dalam rentang waktu lama. Israel terbentuk karena penaklukan dan infiltrasi damai. Maka, Israel dapat dikatakan terbentuk dari konfederasi suku-suku bangsa sekitar amfiktioni (suatu komunitas bersama yang bersifat religius dan sakral di sekitar tempat suci).

Tradisi Yusuf (Kej 37-49) mengatakan bahwa ada 12 suku Israel. Mereka adalah anak-anak Yakub Bapa Leluhur dan ditambah gabungan dari suku-suku lain yang mereka lewati. Hakim-hakim muncul untuk mempertahankan ancaman sporadis bangsa-bangsa tetangga. Ketika muncul bangsa Filistin yang semakin kuat, maka Israel pun didirikan sebagai monarki dengan raja pertama Saul dan dilengkapi dengan organisasi militer yang lebih solid.

Ketika imperium adidaya (Assyria-Babilon di utara dan Mesir di selatan) seimbang, maka Israel aman dan makmur. Namun dalam kemakmuran itu kemudian timbul ketidakadilan, yang merupakan bentuk “kapitalisme pertama”. Jurang ‘penindas‘-’tertindas‘ semakin merebak. Keyakinan akan YHWH perlahan hilang, karena cara beriman (modus credendi) tidak sepadan dengan cara hidup (modus vivendi). Ibadat mereka berlangsung khidmat dan syahdu di dalam rumah ibadat, tetapi di luar mereka berbuat kejahatan dan dosa.

Kebobrokan inilah yang dikritik para nabi. Suara orang-orang yang lemah (tertindas) itu adalah suara hati bangsa yang diungkapkan para nabi. Nabi adalah juru bicara YHWH, yang melihat realitas seturut “kacamata” ilahi. Di Israel tidak hadir lagi keselamatan! Nabi terus berteriak tentang keadilan, kesetiaan terhadap YHWH. Mereka adalah pejuang “Hak Asasi Manusia”. Karena ketidaksetiaan akan Yahwisme asali, bangsa Israel hancur dan dibuang.

Keselamatan dalam Perjanjian Baru

Dalam PL, YHWH bertindak dalam sejarah lewat peristiwa dan tokoh historis. Dalam PB, YHWH sendiri masuk dalam sejarah inkarnasi (verbum caro factum est, Yoh 1:14). Jadi, perbedaan PL dan PB terletak dalam tindakan keselamatan dalam sejarah; dulu Allah berbicara lewat para nabi, sekarang lewat Anak-Nya sendiri.

Yesus kerygma (menurut ajaran Gereja) dan Yesus historis sering menjadi persoalan. Persoalan itu berupa bahaya spiritualisasi, mitosisasi, yang menguap di ruang rohani hampa. Seorang teolog, Rudolf Bultmann, mengatakan bahwa perlu “demitologisasi” Perjanjian Baru.

Yesus adalah keselamatan dalam sejarah. Historisitasnya nampak dalam dua peristiwa berikut: pertama, sejarawan Josefus mengatakan Yesus dieksekusi mati pada tahun kira-kira 30 M; kedua, pengikut-Nya mengaku: Dia bangkit! Lalu, muncul pertanyaan orang Kristen perdana: siapakah Yesus ini? Jawabannya ialah: “Dia Anak Allah! Dia Allah.” Bagaimana dan kapan Dia menjadi Anak Allah atau Allah? Dari penelusuran teologis ditemukan bahwa itu terjadi pada pembangkitan-Nya (Paulus; dalam 1 Kor 15:3-4 dan Flp 2:6-11), saat pembaptisan-Nya (Mrk 1:9-11), sejak Abraham (Mat 1:1-17), sejak kelahiran-Nya (Luk 2:5-14), dan sejak awal-mula (Yoh 1:1-3).

Puncak refleksi injili adalah Yesus Allah menjadi manusia (Yoh 1:14). Elie Wiesel, seorang yang selamat dari pembantaian Nazi di kamp konsentrasi Auschwitz, menuturkan bahwa ketika seorang anak kecil yang digantung oleh Nazi meronta-ronta, orang-orang berteriak: Di mana Allah? Wiesel menjawab: Allah ada dalam anak kecil yang tergantung itu. Dia tergantung di tiang gantungan. Allah menjadi mahalemah di Kayu Salib dan di Palungan. Allah menjadi manusia, agar manusia menjadi Allah, dengan cara Yesus dan bukan cara Adam-Hawa.

Yesus Allah dan Prinsip Deseleksi

Dalam dunia infrahuman terjadi prinsip seleksi alam: bertahan-punah, memunahkan-dipunahkan, memangsa-dimangsa. Sifat brutalitas dan animalitas sangat menonjol. Prinsip yang berlaku the struggle of life dan the survival of the fittest.

Namun bagi Allah terjadi prinsip deseleksi. Yang paling lemah berhak hidup. Itu terlihat ketika pengembara hidup stabil dengan tanah dan keturunan (Abraham). Budak mengalami kemerdekaan (Eksodus). Bangsa kecil berhak hidup di negerinya (Tanah Terjanji). Kaum lemah berhak di tengah masyarakat dalam hal sosio-ekonomiko-kultural-politis (para Nabi).

Yesus yang inkarnasi pun menunjukkan prinsip deseleksi itu. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia dan manusia yang menjadi Allah. Seruan Yesus ialah ‘Engkau berhak hidup!’ Seruan itu terlihat dalam aksi-Nya ketika memberi makan (pergandaan roti), menerima pendosa, merangkul yang terpinggirkan, menyembuhkan penyakit, dan membangkitkan orang mati.

Maka dalam dunia human seharusnya berlaku prinsip deseleksi: yang paling lemah berhak hidup. Kini bukan lagi the survival of the fittest, melainkan the survival of the weakest. Manusia adalah animal rationale (binatang yang punya rasio). Animalitas (brutalitas) mesti dikuasai oleh rasionalitas.

YHWH dalam diri Yesus menyelamatkan duinia secara konkret dan historis. YHWH dan Yesus adalah prinsip deseleksi. Yesus adalah manifestasi yang ilahi menjadi yang paling manusiawi. Setiap yang manusiawi selalu berarti yang paling ilahi.

Iman Kristiani adalah Keselamatan dalam Sejarah

Keselamatan itu harus konkret, hic et nunc (di sini dan kini). Orang Kristen meyakini bahwa tubuh mistik Kristus (Gereja) merupakan perwujudan inkarnasi keselamatan Yesus. Karena itu perlu didengungkan seruan terhadap sesama: gaudium et spes (kegembiraan dan harapan), lumen gentium (terang bangsa-bangsa), dan fraternitas mondialis (persaudaraan mendunia).

Pada masa sekarang ini masih terbentang jurang antara yang kuat dan yang lemah. Aneka ketegangan (ketidakselamatan) tetap berlangsung di depan mata, antara lain mayoritas dan minoritas (etnis, agama), penguasa dan rakyat (KKN), kaya dan miskin, destruksi dan konservasi, laki-laki dan perempuan (bias gender), dll. Lalu, apa peran orang Kristen dalam realitas itu?

Perlu dihayati bahwa iman Kristiani itu adalah keselamatan dalam sejarah. Tuhan menyejarah hadir dalam diri orang beriman yang meng-inkarnasi-kan penyelamatan itu. Itu terjadi bila modus credendi (cara beriman) orang Kristen sama dengan modus vivendi-nya (cara hidup).

 Disarikan oleh: Febryanto Silaban, OFM Cap. 

BIARA CLUNY

Januari 8, 2008 at 2:44 am | In Artikel | Leave a Comment

Oleh: Fr. Benny Ardi Manurung

PENGANTAR

            Abad ke-10 adalah masa-masa suram sekaligus menguntungkan bagi Gereja. Masa-masa suram karena banyak penyakit dalam Gereja; korupsi yang merajalela, simoni, imam-imam yang bergundik, takhta kepausan yang bobrok, kaum bangsawan yang merasuki Gereja adalah kenyataan yang biasa pada masa itu. Tetapi menguntungkan, karena justru pada masa-masa sulit seperti ini lahirlah biara Cluny yang membaharui Gereja. Bagaimanapun pula mendalamnya penyakit kemerosotan rohani dan moral itu menggerogoti Gereja, namun ternyata masih ada kekuatan yang dapat dipergunakan untuk merombak gambaran itu secara radikal, bahkan masih sebelum berakhirnya abad ke-11. Dan sebagaimana biara-biaralah yang menyelamatkan Eropa dalam zaman orang-orang Barbar dengan jalan berpegang teguh pada Gereja, demikian pula dalam abad ke-10 sekali lagi biara-biara menyelamatkan Gereja. Bukanlah kepausan, melainkan seperti disebut tadi: biara Cluny, di Burgundia. Melalui sumber-sumber yang ada, saya mau membahas sedikit mengenai biara Cluny itu, berupa sejarah dan bagaimana ia mempengaruhi Gereja ke arah yang benar. Dapat dikatakan bahwa sejarah-biara (termasuk Cluny) pada awal Sejarah Gereja adalah pendidik dan pembudaya; mudah-mudahan juga hingga saat ini. 

BIARA CLUNY – awal mula dan perkembangan

            Pada permulaan abad X, tepatnya tahun 910 didirikan biara Cluny di kota kecil di Perancis, Burgundia. Biara Cluny didirikan oleh Duke William III, seorang bangsawan yang baik dari Aquitaine. Ia mengangkat abas pertama, Berno dari Baume (910-927), dan menghadiahkan kepada biara Cluny tanah dan uang. William III kiranya melakukan hal tak biasa ini karena dua alasan: (1) dia tidak mempunyai seorang ahli waris dan (2) yang kiranya teramat berarti bagi dirinya sendiri, yakni dia telah melakukan suatu pembunuhan sehingga begitu tertekan oleh hati nuraninya. Langkah ini adalah bagian dari pertobatannya. Namun, tanpa memperhatikan motivasi pribadinya, usaha William itu telah menggagasi pembaharuan hidup monastisisme.

Abas I, Berno dari Baume memiliki kebebasan berpolitik yang disokong situasi di luar kerajaan. Hal ini memberi Cluny fungsi politik sebegitu luas, terutama pihak yang bersekutu dengan biara itu. Sejak permulaannya, biara ini telah mempunyai dua keuntungan yang tak ternilai. Pertama, biara ini tidak dalam kekuasaan uskup setempat pun kuasa dunia lainnya, melainkan langsung di bawah kekuasaan paus. Hal itu membawa kebebasan yang besar, lagipula sebagai biara yang masih muda belumlah mengalami keruntuhan yang hampir merupakan tradisi, yang menghalang-halangi biara yang  lebih tua untuk mengadakan perombakan. Kedua, (pastilah hal ini merupakan faktor yang paling penting dalam jangka dua abad pertama) di antara para abbasnya terbilang sejumlah besar orang-orang kudus: Odo (927-942), Mascal (948-994), Odilo (994-1048), Hugo (1049-1109). Selama masa kepemimpinan mereka diterapkan Aturan Benedektin yang keras. Karena itu mereka mempunyai prestise yang kuat dan punya pengaruh yang besar melebihi raja yang memiliki reputasi jelek yang berkuasa kala itu. Namun, patut dicatat bahwa raja-raja itu menyukai pemimpin-pemimpin ini karena askese dan hidup rohaninya yang tinggi. St. Odo (962-942) pertama-tama melaksanakan pembaharuan itu secara sistematis dan di bawah pimpinannya Cluny mulai mengalami kebangkitan. Kembali pada tradisi monastik awal, ia menempatkan tradisi pembaharuan hidup monastik dan juga hidup kekristenan (kasih, kesopanan dan damai). Dia juga menunjukkan dirinya sebagai seorang pembaharu yang bersemangat. Tahun 931 dia menerima previlege dari paus untuk membawahi setiap biara yang ingin mengikuti pembaharuannya. St. Odilo (994-1049) adalah sahabat para kaisar, pendidik para bapa suci, dan para uskup. Di bawah Odilo,  keunggulan hidup rohani ini semakin mengemuka dan biara-biara Benediktin lainnya ikut bersekutu di mana biara Cluny sebagai kepalanya.            Masa-masa ini boleh dikatakan masa minimnya gelar orang kudus diberikan bagi anggota Gereja. Tak ada satu dari keduapuluh lima paus dalam abad ini yang digelarkan kudus. Lain sekali dengan keadaan di Cluny. Tujuh dari delapan pemimpin biaranya, yang memerintah selama dua setengah abad, dihormati sebagai orang kudus. Dalam takhta St.Petrus sedikit saja dapat dikatakan manusia yang berperilaku baik dan berwatak layak. Salah satunya adalah P.Leo IX yang memulai perubahan dengan mempersatukan tenaga-tenaga ahli yang terpencar di bawah pimpinannya. P.Leo IX adalah yang pertama menentang simoni dan pergundikan.           

BIARA CLUNY BERHADAPAN DENGAN KEBOBROKAN GEREJA

            Penyelewengan yang diberantas Cluny itu rupa-rupanya sudah sebegitu mendalam dan menjadi tradisi yang biasa hingga saat itu, sehingga sulit untuk diubah. Adalah biasa bahwa para bangsawan sering menempatkan putera-puteranya sebagai uskup; uskup demikian yang tidak pantas untuk martabatnya, biasanya kawin ataupun hidup dalam pergundikan, lalu meneruskan takhta keuskupan kepada puteranya sendiri. Lowongan takhta keuskupan biasanya dijual kepada penawar yang tertinggi (semacam praktik pelelangan). Penyogokan dan kekejaman yang sangat biasapun mewarnai zaman ini. Malahan takhta keuskupan pernah diberikan kepada seorang wanita. Kehidupan biarapun tidak kalah bobroknya; pemimpin biara yang kawin dan yang tinggal bersama keluarganya di biara. Begitulah turun–temurun. Mereka yang puas dengan kondisi ini tentu sangat menentang pembaharuan, sebagaimana pernah dialami oleh Uskup Eluin dari biara Lobbes. Ia ditentang oleh teman-temannya dan dianiaya; matanya dikeluarkan dan lidahnya dipotong.

            Kekejian pun terjadi dalam takhta suci. Yohanes XII, putera dari raja Alberikus di Italia, telah diangkat menjadi paus meskipun umurnya baru 16 tahun. Tentu ia tidak mempunyai gambaran tentang tugas kewajibannya itu. Dan memang, selama hidupnya ia hidup dengan para wanita, mempergunakan hak milik Gereja untuk kepentingannya, mentahbiskan anak-anak menjadi uskup, pesta pora di jamuan makan Lateran, dan akhirnya terbunuh pada umur ke-26.

            Cluny mempunyai peran besar ketika berkotbah kepada pasukan Perang salib. Memang, Perang Salib I telah digambarkan sebelumnya oleh Cluny, dan hal itupun berbuah sehingga P. Urbanus II menjadi biarawan Cluny.

            Kasus investitur adalah hal yang paling nyata terjadi di Perancis, di mana kaisar  mengangkat pausnya sendiri, tetapi ajaran-ajaran Cluny mempengaruhi juga usaha-usaha Henry II dan  penggantinya, Henry III, untuk menumbangkan simoni. Hugo dari Cluny adalah contoh yang paling tinggi sebagai kekuatan dan pengaruh yang dicapai oleh abbas Cluny. Dia menjadi orang kepercayaan dalam pergantian paus dan menjadi penasehat sejumlah rumah kerajaan. Karena bimbingannya, ia membantu Kaisar Henry III dalam memberantas simoni. Dia juga menjadi penengah di tengah perselisihan yang hebat antara Henry IV dan P. Gregorius VII (Hildebrand). Hugo, hadir pada puncak perselisihan mereka, ketika Henry IV dipaksa berlutut di Canossa. Di bawah Hugo, suatu karya dimulai oleh abbas Cluny yang pada generasi berikutnya menjadi kemegahan dunia abad pertengahan. Hal itu ialah gereja dengan lima ruang tengah yang sangat besar yang mulai dibangun tahun 1088 dan diberkati pada tahun 1130.

 SAHABAT-SAHABAT CLUNY

            Biara Cluny tidaklah berdiri sendiri. Lepas dari Cluny terdapat pula beberapa biara yang mulai mengadakan pembaharuan. Di Inggris misalnya, tepatnya Rhineland, dan di mana-mana terdapat biara-biara independen yang mirip dengan Cluny. Namun demikian, biara Cluny haruslah kita sebut yang pertama, karena dapat mengatur dirinya untuk menjadi pusat usaha-usaha pembaruan yang berserakan tempatnya. Apa yang dilakukan oleh biara Cluny memperlihatkan betapa mendalamnya kedambaan akan pembaharuan yang hidup di kalangan beribu-ribu biarawan dan awam. Dengan sendirinya, terdapat biara-biara yang mengundang para biarawan Cluny agar memimpin pembaharuan. Para uskup dan juga para bangsawan yang mempunyai kekuasaan atas biara-biara ataupun hendak mendirikan yang baru, lebih dahulu meminta nasehat kepada biara Cluny. Panggilan-panggilan baru, kebanyakan terdiri atas kaum muda bangsawan yang terpesona oleh semangat biara Cluny, datang mengalir dan mendirikan biara-biara baru atau memasuki yang sudah lama ada, untuk melenyapkan apa yang usang. Lambat laun biara Cluny yang mula-mula merupakan titik terang rohani itupun mendapat pengakuan resmi sebagai pemimpin organisasi biara yang sangat besar. Kira-kira pada tahun 1100, 300-an biara monastik telah bersekutu dengan biara Cluny yang tersebar di seluruh Perancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Polandia, dan Hungaria; satu abad kemudian jumlah itu lima kali lipat bertambah sehingga telah mencapai jumlah 1500 biara dengan 10.000 orang biarawan, yang tunduk pada kekuasaan pusat dan pengawasan Abas Umum. Para biarawati dari biara-biara sekitar setiap tahunnya juga berkumpul di Cluny. Mereka datang diwakili oleh ibu rumah-nya masing-masing. Semangat religius roh pembaharuan itu rupanya mengawali suatu abad besar pembaharuan hidup monastik secara keseluruhan.

            Perkembangan yang pesat itu memberikan kesaksian akan kebutuhan reformasi dalam hidup kebiaraan. Hasil itu bukanlah tanpa perjuangan. Baik di dalam maupun di luar biara timbul banyak perlawanan yang gigih. Alasan-alasan perlawanan bervariasi antara hasrat mencari keselamatan yang pasti dan suatu keinginan untuk tidak kehilangan kebebasannya dan sekaligus ketakutan akan kehilangan kehidupan yang mewah dan gampang, tidaklah dapat menghalang-halangi suatu gerakan yang didorong oleh pengharapan jiwa yang mendalam. Para biarawan dari Fleury dapat bertahan menutup pintu gerbangnya selama tiga hari berturut-turut karena tidak menyetujui kedatangan para penilik dari biara Cluny yang dikirimkan ke sana oleh hertog Burgundia. Para anggota dewan katedral Clermont melakukan serangan bersenjata terhadap biara Saint Loup yang telah mengadakan pembaharuan, serta merusak segala-galanya di sana. Namun, bukti-bukti yang masih dapat diperdalam lagi dari sejumlah contoh lain, tak ada bedanya dari alat-alat yang dipergunakan untuk menentang gerakan pembaharuan. Paksaan, siasat, kelicikan hukum sejak permulaan telah dipakai untuk menghalang-halangi jiwa yang mulai menerobos dari Cluny masuk ke dalam umat Kristen. 

PENGARUH CLUNY DI LUAR BIARA

            Sebenarnya, tujuan pembaharuan melulu pada biara-biara saja. Namun, lambat laun semangat itu merembes pula kepada kaum sekulir, para imam, uskup dan paus, serta kepada umat beriman seluruhnya. Askese para biarawan dalam mempertobatkan orang memang lain daripada yang lain. Menyolok sekali kehidupan para kepala paroki yang kawin dan memperkaya diri, sehingga mendapat kritik pedas dari umatnya. Kritik itu dapat berupa pemboikotan yang sungguh-sungguh. Lama-kelamaan tak ada seorangpun yang mengingkari adanya pembaharuan, yang baik di dalam maupun di luar biara telah membawa revolusi. Revolusi dengan kejadian-kejadian yang luar biasa pula. Satu contoh disebutkan di sini. Di kota Milano usaha pembaharuan itu sudah dapat menguasai penduduk. Dalam hal itu seorang pertapa bernama Arialdus punya peran penting. Akan tetapi, dia berhadapan dengan seorang uskup agung yang melawan pembaharuan itu. Akhirnya, rakyat marah dan istana kepausanpun menjadi sasaran pengrusakan rakyat. Akan tetapi karena balas dendam maka tampillah seorang saudara sepupu uskup dan dua orang ini menangkap Arialdus di Lago Maggore dan membunuhnya dengan sangat kejam. Dari sini dilihat, pembaharuan Cluny telah menimbulkan pertentangan golongan, yang menyeret biara-biara, kota, bahkan kelompok-kelompok ke dalam pergolakan itu.

  PENUTUP – akhir biara Cluny.

            Aturan Venerabilis Abbas Petrus (1122-1156) mencapai akhir masa keemasan abbas. Kemasyhuran Cluny justru menjadi satu penyebab kemundurannya pada akhir pertengahan abad ke-12. Kemudian, kekuatan dan semangat pembaharuannya beralih pada kongregasi Benediktin, Ordo Citeaux di Burgundia (Cistercian), yang di bawah pimpinan Bernardus, membaharui Aturan Hidup Benediktin. Hal ini semakin memperlemah biara Cluny.

 Pada abad ke-13 biara Cluny kehilangan kebebasannya  dan berada di bawah pengaruh kerajaan Perancis yang berkuasa pada masa itu. Sebagai akibatnya, diapun semakin kehilangan pengaruhnya. Dalam periode 1567-1570 biara Cluny dirampas oleh orang-orang Huguenot. Kesudahannya bersamaan dengan munculnya Revolusi Perancis, ketika biara itu dibubarkan tahun 1790 dan bangunan-bangunan biara dihancurkan.

Biara Cluny dicoba dihidupkan kembali pada masa itu oleh kardinal Richelieu dan Mazarin. Mereka mencoba memulihkan pengaruh Cluny kembali tetapi tidak berhasil.

Saat ini, hanya sedikit puing-puing biara itu yang masih tinggal. Namun, teladan yang pernah ditunjukkan oleh Biara Cluny kiranya menyemangati kita untuk berjuang terus dalam “menyelamatkan Gereja di setiap zamannya.” Tidak perlu sehebat Cluny, sekecil apapun tentu bermakna dan berguna – ‘berpikir global dan bertindak lokal.’ 

Bahan Bacaan:·        Bellito, Christopher M. Renewing Christianity – a history of Church from day one to Vatican II. New York: Paulist Press, 2001.·        Berkhoff, H. Dr. & Dr. I. H. Enklaar. Sejarah Gereja. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1950.·        Brauer, Jeral C. “Cluny, Order of,” Dictionary of Church History (Philadelphia: The Westminter Press, 1971), hlm. 215-217.·        Embuiru, H. Dr. SVD. Gereja Sepanjang Masa. Ende: Penerbit Nusa Indah, 1967.·        Fahlbusch, Erwin, et al. “Cluny, Order of,” The Encyclopedia of Christianity vol. 1  (USA: Eerdmans Brill), hlm. 599.·        Helwig, W. L. Drs. Sejarah Gereja Kristus (1). Yogyakarta: Kanisius, 1974.

SEJARAH SUKSESI KEPAUSAN

Januari 8, 2008 at 2:41 am | In Artikel | Leave a Comment

Oleh: Fr. Febry Silaban

 

Pengantar

            Kedudukan khas paus membangkitkan banyak pertanyaan seputar suksesi kepausan atau konklaf. Bagaimana proses pemilihannya? Apakah paus bisa mengundurkan diri dari jabatannya? Yesus sendiri memilih Petrus sebagai wakil-Nya memimpin Gereja “jauh” sebelum Ia disalib dan wafat, dan Kitab Suci Perjanjian Baru tidak memberi petunjuk bagaimana tata cara menentukan pengganti Petrus, paus pertama, jika saatnya tiba.

 Asal-Usul Nama ‘Konklaf’

Pernah terjadi, karena berbagai tekanan politik, para kardinal tidak dapat memutuskan seorang paus hingga hampir tiga tahun lamanya. Maka Konsili Lyons II di bawah Paus Gregorius X pada tahun 1274 mengeluarkan dekrit baru, Ubi Periculum, tentang pemilihan paus. Para kardinal harus diasingkan dalam daerah tertutup (konklaf, dari bahasa Latin con/cum=dengan/bersama, dan clavis=kunci).

Akhirnya mereka “dikunci” dalam suatu ruangan guna menghindari segala bentuk kekuatan pihak luar dalam mempengaruhi pemilihan. Mereka bahkan tidak diberikan ruangan-ruangan tersendiri. Tak satu pun kardinal diizinkan untuk diurus oleh lebih dari satu orang pelayan, kecuali jika sakit. Mereka tidak diperbolehkan mengirim pesan, baik lisan maupun tulisan. Jika dilanggar maka akan diekskomunikasi. Makanan disediakan melalui sebuah jendela. Walau kemudian dibatalkan, konsili juga menetapkan bahwa jika seorang paus belum terpilih setelah hari ketiga, maka para kardinal hanya akan diberi makan satu kali pada siang hari dan satu kali pada malam hari; dan jika seorang paus masih juga belum terpilih setelah lima hari, mereka hanya akan diberi makan roti, air, dan anggur. Cara hidup yang demikian dimaksudkan memotivasi para kardinal untuk memilih seorang paus tepat pada waktu yang telah ditentukan. Sejak saat itu, pertemuan para kardinal guna memilih seorang paus dikenal dengan istilah “konklaf”.

Pembatasan ransum/makanan ini kemudian dihilangkan, tetapi sistem dan istilah konklaf yang diperkenalkan tahun 1274 ini telah berjalan dan berkembang selama hampir dua milenia.

 Sejarah Perkembangan

            Sejarah pemilihan paus dapat ditelusuri dari abad pertama sejak Tahta Suci di Roma dikukuhkan Petrus dan Paulus tahun 62. Pemilihan pengganti Petrus waktu itu mengikuti tradisi pemilihan uskup diosesan dalam komunitas Kristen purba. Pada dasarnya pemilihan melalui pemungutan suara dari kaum klerus dan awam/rakyat yang tinggal di wilayah diosesan yang bersangkutan.

Karena paus adalah Uskup Roma maka pada saat itu pemilihan paus juga dilakukan melalui pemungutan kaum klerus dan awam Keuskupan Roma. Model pemilihan ini, dengan berbagai variasi, berlangsung sekitar seribu tahun pertama Masehi (hingga abad pertengahan).

Banyak masalah kemudian muncul. Jelas pertama-tama karena jumlah umat Kristen di antara penduduk Roma makin tahun makin membengkak, sehingga makin sulit mengatur pemungutan suara. Tidak jarang terjadi unjuk rasa yang rusuh untuk memenangkan calon tertentu yang ambisius, tetapi kemudian lebih sering dari kalangan penguasa (politik) yang punya calon sendiri.

Pernah pula hasil pemilihan paus digugat, dan muncul paus tandingan (sering disebut antipaus), seperti paus Damasus (366-384) yang ditandingi antipaus Ursinus dan Paus Symmachus (terpilih 498) yang ditandingi antipaus Uskup Agung Laurentius. Kerusuhan-kerusuhan itu mengundang campur tangan politik para penguasa Roma, sedemikian rupa sampai berabad-abad kemudian paus terpilih baru sah setelah dikukuhkan oleh penguasa Roma. Ini berarti setelah hancurnya Kekaisaran Roma, wewenang itu jatuh ke tangan para penakluk Roma, seperti Jerman dan Bizantium (Konstantinopel, sekarang Istambul). Tidak tahan atas penghinaan berabad-abad itu, Paus Gregorius III tahun 731 minta perlindungan politik dari Raja Perancis.

Sinode Lateran tahun 769 secara resmi menghapuskan hak pilih teoretis yang diadakan oleh penduduk Roma. Pemilihan paus diatur sebagai berikut: para kardinal imam dan diakon memiliki hak secara aktif, para klerus hak suara pasif, dan kaum awam hanya suara aklamasi. Dalam peraturan ini diusahakan untuk menyingkirkan pengaruh awam dan politik. Walaupun dalam kenyataan situasi sering berbeda, namun sudah diakui garis dasar dari reformasi Gereja yang akan datang. Karolus Agung, sebagai kaisar, tidak campur tangan dalam pemilihan paus. Ludovikus si Saleh sudah merasa puas akan pemberitahuan mengenai pemilihan yang dilaksanakan. Pada tahun 824, sesudah kematian Paus Paskalis I, pecahlah kerusuhan di kota Roma. Karena itu Ludovikus si Saleh mengirimkan putranya, Lotarius, ke Roma untuk memulihkan keadaan. Sesudah memulihkan keadaan di Roma, Lotarius memberikan peraturan yang menetapkan bahwa pemilihan paus harus disetujui oleh kaisar sebelum paus dapat dikonsakrir dan bahwa orang yang terpilih menjadi paus harus mengucapkan sumpah setia kepada kaisar. Peraturan yang diberikan oleh Lotarius ini disebut juga Constitutio Romana. Walaupun sudah diberikan norma-norma untuk pemilihan paus, namun para kaisar Italia tidak berhasil memaksakan hak-hak ini, dan kelompok orang Romawi yang berkuasa, kaum bangsawan, dan klerus tinggi, sekali lagi memaksakan calon-calonnya.

Tahun 824, peraturan itu diputarbalikkan lagi. Partisipasi awam dalam pemilihan aklamasi seorang paus kembali menjadi aturan hingga tahun 1059.

Perubahan besar diperkenalkan tahun 1059, ketika Paus Nikolas II mengeluarkan dekrit baru tentang pemilihan paus. Keputusannya tiga tahap: (1) para Kardinal uskup bersidang dan memilih calon, (2) mereka mengundang para Kardinal Rohaniwan non-Uskup untuk mendapat persetujuan, (3) rohaniwan lain dan awam Roma dimintai dukungan. Sejak itu kepausan secara prinsip dipisahkan dari campur tangan awam Roma, entah penguasa atau bukan.

Tanggal 22 Mei 1073, Hildebrand, seorang rahib dan diakon, yang telah lama bertugas sebagai penasehat beberapa paus, dipilih menjadi paus dengan nama Gregorius VII (1073-1-85). Semakin jelas ia memajukan anggapannya, bahwa sebagai paus di bumi ini, ia adalah wakil Kristus (wakil Raja para raja=vicarius Rex regnum). Menurutnya Kristus adalah ahli waris dari Kaisar Augustus. Kesimpulan yang ditariknya adalah bahwa paus bukan hanya berkuasa dalam hal-hal Gerejani, melainkan juga dalam perkara-perkara duniawi. Itu berarti bahwa paus memiliki hak untuk mengangkat ataupun memecat para penguasa duniawi dan melepaskan para bawahannya dari sumpah setia kepada pemimpin duniawi. Pandangannya ini diungkapkan dengan sangat jelas dalam Dictatus Papae—sebuah dokumen yang berbicara mengenai kuasa paus.

Pemilihannya di Roma tidak terjadi menurut aturan pemilihan paus yang ditentukan tahun 1059 dan karena itu juga ia rupanya tidak memberi hormat kepada Kaisar Hendrikus IV. Tidak heran terjadi ketegangan di antara kedua pemimpin tinggi itu.

Pada Konsili Lateran III tahun 1179, Paus Alexander III, dalam konstitusi apostolik Licet de Vitanda Discordia, menetapkan bahwa seluruh kardinal menjadi dianggap sama, dan agar pemilihan seorang paus sah, diperlukan dua pertiga suara para kardinal. Peranan kaisar sama sekali tidak disebutkan.

Ketika Paus Klemens IV wafat tahun 1268, para kardinal berkumpul di istana kepausan di Viterbo, Italia. Karena berbagai tekanan politik, para kardinal tidak dapat memutuskan seorang paus hingga hampir tiga tahun lamanya. Akhirnya mereka “dikunci” dalam suatu ruangan guna menghindari segala bentuk kekuatan pihak luar dalam mempengaruhi pemilihan. Konsili Lyons II di bawah Paus Gregorius X pada tahun 1274 mengeluarkan dekrit baru, Ubi Periculum, tentang pemilihan paus. Para kardinal harus diasingkan dalam daerah tertutup (konklaf). 

Peraturan konklaf yang ketat ini tidak disukai oleh para kardinal dan ditangguhkan oleh Paus Yohanes XXI (1276-1277). Lamanya vacancy (lowong) akhirnya kembali normal hingga pada tahun 1294, ketika seorang rahib yang saleh, Benediktus, menegur para kardinal untuk memakai peraturan konklaf itu kembali. Guna mengakhiri jalan buntu Dewan Kardinal, ia dipilih sebagai sebagai Paus Selestinus V, pada tanggal 5 Juli 1294, meskipun usianya telah 84 tahun. Dia dinyatakan santo pada tahun 1313.

Tanggal 19 Maret 1378, Paus Gregorius XI mengeluarkan bulla “Futuris Periculis” mengenai norma-norma pemilihan paus dalam keadaan darurat. Dalam bulla itu ia memutuskan: pemilihan paus atas permohonan mayoritas relatif para kardinal dapat diadakan di tempat manapun yang aman, dan dapat diubah, juga dapat diadakan tanpa konklaf dan tanpa memperhatikan waktu yang ditentukan, serta kalau perlu dapat juga diadakan di luar kota Roma; cukup suara mayoritas relatif supaya seorang terpilih menjadi paus dan tidak perlu bahwa diperoleh dua pertiga dari jumlah suara. Sesudah kematian Paus Gregorius XI, bulla ini tidak dipakai.

Saat itu, tahun 1378,  mulailah  penduduk Roma membuat kerusuhan. Mereka menghendaki dipilihnya seorang Roma menjadi paus, dengan teriakan, “Kami menghendaki seorang Roma.” Para kardinal menyetujui terpilihnya Urbanus VI, yang bukan seorang kardinal. Kemudian pada tahun yang sama, kardinal-kardinal dari Perancis—yang tidak mengakui Paus Urbanus VI—pergi  ke Fondi. Tanggal 20 September 1378 para kardinal Perancis itu memilih Robertus dari Geneva menjadi paus tandingan, yang memilih nama Klemens VII yang tinggal di Avignon, Perancis. Para kardinal Italia tidak diikutkan dalam pemilihan ini, karena merasa dikhianati. Dengan demikian pecahlah skisma barat.

Demi persatuan Gereja, Konsili di Pisa tahun 1409 berusaha  menyelesaikan konflik tersebut dengan memilih paus yang baru yakni Alexander V. Walaupun dalam Konsili di Pisa ini kedua paus, dari Avignon dan Roma, dinyatakan diturunkan dari tahtanya, namun ternyata mereka tidak mau mundur. Kini terdapat bukan lagi dua paus, melainkan tiga orang yang disebut paus. Konflik Skisma Barat itu akhirnya diatasi oleh Konsili di Konstan pada tahun 1414 dan 1418. Ketiga paus turun atau diturunkan. Dalam konklaf tahun 1417, terpilihlah Odo Colonna menjadi Paus Martinus V. Saat itu juga ia menerima berturut-turut tahbisan diakon, imam dan uskup. Konsili di Konstan memodifikasi peraturan konklaf.

Pius IV mengeluarkan dua bulla yang berhubungan dengan hal-hal kecil tentang pemilihan paus: pertama, Aeterni Patris (1621) berkenaan dengan proses-proses pemilihan; sedangkan bulla yang kedua Decet Romanum Pontificem (1622) menetapkan upacara-upacara (caeremoniale) yang harus dijalankan.

Ada 4 bentuk kemungkinan dalam pemilihan: scrutinium (meneliti dengan cermat), compromissum (persepakatan), dan accessus (aklamasi). Jika voting secara aklamasi, para kardinal dengan suara bulat menyatakan paus baru “quasi afflasi Spiritu Sancto”(seakan-akan diinspirasikan oleh Roh Kudus). Jika voting secara persepakatan/kompromi, Kolegia Para Kardinal yang menemui jalan buntu akan memilih komisi para kardinal untuk menyikapi suatu pemilihan. Jika voting secara “scrutinium”, para pemilih memberikan surat suara rahasia, yang tertulis: “Testor Christum Dominum qui me judicaturus est me eligere quem secundum Deum judice eligi debere et quod idem in accessu praestabo”—“Saya bersaksi dalam Tuhan Kristus, yang akan menghakimiku bahwa aku memilih orang yang menurut Allah saya pikir harus dipilih.”  

Pemilihan yang terakhir secara kompromi adalah pemilihan Yohanes XXIII (1316) dan secara aklamasi yang terakhir adalah pemilihan Gregorius XV (1621). Peraturan baru yang diperkenalkan Yohanes Paulus II secara resmi telah menghapus sistem-sistem yang lama tak berguna itu. Saat ini, pemilihan selalu dengan surat suara.

 Peristiwa-Peristiwa Lampau sekitar Pemilihan Paus

1. Paus yang mengundurkan diri

Bapa Suci dapat mengundurkan diri jika ia menghendakinya. Namun demikian, jika seorang paus dipilih sebagai penerus St. Petrus, Gereja mengharapkan bahwa ia tetap mengemban jabatannya hingga akhir hayatnya. Dalam kenyataannya, sepanjang sejarah Gereja, beberapa paus mengundurkan diri karena berbagai alasan, sementara beberapa lainnya diturunkan dari tahtanya karena berbagai alasan pula.

Paus pertama yang mengundurkan diri adalah Paus St. Pontianus yang terpilih pada tanggal 21 Juli 230. Dalam masa penganiayaan umat Kristen, ia dijatuhi hukuman kerja paksa di tambang garam. Sebab itu ia mengundurkan diri sebagai paus guna memungkinkan pemilihan seorang paus baru.

Paus Benediktus IX (1032) memiliki reputasi cemar karena memangku kepausan untuk tiga masa yang berbeda. Pertama, ia berhasil dipaksa rakyat Roma turun dari tahta paus, karena ia masih sangat muda dan tidak berpengalaman. Namun ia berhasil menjadi paus kembali. Dua puluh satu hari kemudian ia mengundurkan diri karena ingin menikah. Lalu, Benediktus IX kembali lagi menobatkan dirinya sendiri sebagai paus; secara teknis pontifikatnya yang ketiga kalinya. Kaisar Henry III, tahun 1048, campur tangan menurunkan Benediktus IX dari tahtanya untuk selamanya.

Paus lain yang mengundurkan diri adalah St. Selestinus V, seorang biarawan Benediktin yang terkenal karena kesalehannya yang terpilih tanggal 5 Juli 1924. Segera saja ia menjadi korban muslihat para kardinal dan kaum bangsawan. Ia mengundurkan diri pada tanggal 13 Desember 1294 dan kembali ke biaranya. Paus terakhir mengundurkan diri adalah Paus Gregorius XII (1406-1415).

 

2. Anti-Paus (Paus tandingan)

            Dalam sejarah Gereja Katolik Romawi, pernah ada sekitar 40 orang yang mengaku diri paus yang sah melawan paus yang sudah terpilih. Mereka itu disebut antipaus. Memang pernah terjadi masa-masa tertentu ketika ada beberapa orang paus (paus dan antipaus) memerintah Gereja pada saat yang bersamaan. Tetapi menurut Gereja Katolik, para antipaus adalah tidak sah. Pengganti Santo Petrus harus satu orang saja. Maka menurut perhitungan yang lazim, hingga saat ini sudah ada 265 paus yang sah.   

 

3. Paus yang berasal dari non-kardinal

            Jadi, hanya pria Katolik yang sudah dibabtis—bukan heretik atau skismatik—dapat dipilih oleh para Kardinal. Pernah terjadi seorang paus yang bukan kardinal terpilih, yaitu Urbanus VI. Adapun umat awam biasa yang terpilih sebagai paus terjadi terakhir kali tahun 1294, dengan terpilihnya Selestinus V. Saat ini yang berhak untuk dipilih menjadi paus adalah mereka yang sudah mendapatkan gelar kardinal.

Karena Gereja Katolik berpegang teguh bahwa wanita tidak bisa ditahbis secara valid dalam Sakramen Imamat Suci, dan sesuai dengan definisinya, paus adalah Uskup Roma, maka wanita tidak pernah dapat dipilih sebagai paus. Legenda Paus Yoana yang pernah beredar hanyalah fiksi belaka.

 

4. Nama baru paus

            Apabila sudah ada kardinal yang terpilih, kardinal diakon akan segera menyampaikan pertanyaan sekitar kesediaan kardinal terpilih memangku jabatan paus. “Accetti la tua elezione canonica a Sommo Pontefice?” (Apakah Anda menerima kanoni sebagai Summum Pontificem/Paus?)

            Apabila kardinal terpilih menjawab “ya”, ia diminta mencari nama baru. Sejak maa Paus Yohanes XII (1009-1012), setipa paus mengambil nama baru. Nama itu umumnya diambil dari nama para rasul Yesus atau dari orang-orang suci. Namun, nama Petrus tidak boleh digunakan, hal itu dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Petrus yang menjadi paus pertama.          

 Penutup

            Konklaf adalah proses yang dilakukan Gereja Katolik untuk memilih Uskup Roma yang dianggap sebagai “pengganti” Santo Petrus dan sebagai Paus, kepala Gereja. Mungkin tidak ada satu proses suksesi kekuasaan di dunia ini yang diliputi banyak teka teki selain proses pemilihan seorang paus. Sejarah Gereja Katolik menunjukkan proses dan hasil pemilihan paus baru selalu unpredictable.

            Demikian juga, ditemukan juga berbagai kisah menarik sejarah pemilihan paus. Ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kisah-kisah tersebut. Pertama, jika seorang paus mengundurkan diri dari jabatannya, akan selalu timbul godaan untuk menantang kekuasaan paus yang baru. Kedua, dalam masa-masa modern, Gereja telah diberkati dengan para paus yang sungguh kudus, yang adalah pemimpin-pemimpin yang hebat. Ketiga, Gereja secara mantap telah menjadikan dirinya lebih bebas dari segala tipu-muslihat politik para pemimpin duniawi.

 KEPUSTAKAAN Brevoort, Dr. Anthonius, Sejarah Gereja Abad Pertengahan. Sinaksak-Pematangsiantar: STFT St. Yohanes, 1994.Hilkert, John, “History of The Conclave”. Dalam http://www.newadvent.org/cathen/04192a.htm, 12 Mei 2007.Koesuma, Doni A., “Paus, Lembaga Kepausan, dan Dunia”. Dalam Kompas (Jakarta), Selasa, 5 April 2005.New Catholic Encyclopedia. Washington DC: The University Of America, 1963. “Papal Conclave”. Dalam www.wikipedia.com, 19 Mei 2007Saunders, William P., “Straight Answers: Cardinals, Conclaves, and a New Pope”. Dalam www.indocell.net/yesaya, 12 Mei 2007.Toruan, Raymond,  “Memilih Paus dari Masa ke Masa”. Dalam Hidup (17 April 2005).

Ruang Cinta

Desember 22, 2007 at 1:02 am | In Artikel | Leave a Comment

Sang Mawar Oleh Albert Simangunsong

“…Apakah arti sebuah nama ?
Setangkai mawar, meski disebut dengan ratusan nama lainnya, tetaplah menawarkan keharuman…”.
~ Romeo and Juliet, Shakespeare,

Semalam, seorang kawan dekat saya menelepon saya untuk menceritakan sebuah kegagalan yang dialaminya. Mengakui sebuah kegagalan adalah sesuatu yang teramat berat. Di tengah situasi di mana orang-orang lebih sering mengklaim sebuah keberhasilan adalah berkat jasanya, kawan dekat itu justru mengakui kegagalannya. Di tengah situasi di mana orang-orang lebih mencari pembenaran atas kegagalan yang seharusnya dia akui, kawan dekat saya justru mengakuinya dengan lapang dada. Di tengah situasi di mana orang-orang mengakui keberhasilan atas usaha dan jerih payah orang lain, kawan saya, kawan dekat saya itu, justru mengakui kegagalannya.Namun begitu, seorang kawan juga berkata, bahwa semua orang pasti mengakui kegagalannya. Itu sebuah keniscayaan, karena pengakuan kegagalan sifatnya sangat pribadi. Ia merupakan bahasa hati yang sangat mungkin tak terdengar. Ia ~pengakuan kegagalan itu~ dapat saja muncul dengan pencarian pembenaran untuk kegagalan itu. Ia ~pengakuan kegagalan itu~ dapat saja muncul melalui kekecewaan yang lantas terlihat sebagai pengkambinghitaman orang lain. Sebuah fakta yang sangat jelas nampak adalah bahwa semakin kita menyangkal sebuah kegagalan, semakin jelas, bahwa kita tengah mengakuinya.Tuhan menciptakan kita ~meski dengan penciptaan yang sempurna~ dengan potensi kegagalan yang demikian besar. Karena itu, bersyukurlah kita yang pernah merasa gagal, seperti halnya bersyukurlah ketika kita sakit kepala, karena artinya, kita masih punya kepala. Namun, di atas itu semua, saya menjadi tertarik untuk menulis tentang kegagalan dari jendela yang lain. Mengapa kita disebut gagal. Karena kita menciptakan takaran dan ukuran dalam tiap kegiatan kita. Takaran dan ukuran itulah yang menakar dan mengukur kemampuan kita. Tentu saja bukan sebuah hal yang salah jika kita membuatnya. Itu penting dan menjadi sangat penting bagi tempat kita berkaca. Namun, jangan terlampau bersedih, jika kita gagal, karena ukuran dan takaran yang kita buat (atau dibuatkan organisasi untuk kita) seringkali terlampau berat untuk kemampuan dan kewenangan kita. Pun jangan terlampau berbangga hati, jika kita berhasil, karena bisa jadi ukuran dan takaran yang kita buat (atau dibuatkan organisasi untuk kita) terlampau kecil untuk kemampuan dan kewenangan kita.Di setiap saat menjelang Valentine Day, stasiun televisi berlomba menyajikan tontonan khas Valentine yang telah diputar berulang-ulang, film Romeo and Juliet. Namun, setiap kali itu juga saya begitu menikmatinya. Bukan ceritanya benar yang saya nikmati, karena kisah cinta yang sama telah banyak melegenda di ratusan tempat di bumi ini, termasuk beberapa tempat di Indonesia. Yang demikian saya nikmati adalah dialognya, tiap syairnya yang agung, yang dalam film itu justru tampil dalam dialektika yang sangat berbeda. Namun, di atas semua keindahan yang ditampilkan film itu, justru dialog tunggal (tepatnya monolog, namanya) yang dilakukan Juliet di tepi kolam renang dalam keheningan malam, tatkala kerinduannya pada Romeo mengalir teramat deras, yang demikian menarik hati saya. Saat itu, Juliet belum menyadari Romeo berada di dekatnya setelah dia dengan nekat memanjat tembok yang demikian tinggi. Monolog itu terkenal sekali, “…Apakah arti sebuah nama ? Setangkai mawar, meski disebut dengan ratusan nama lainnya, tetaplah menawarkan keharuman…”. Setangkai mawar, bagi saya adalah tamsil bagi keindahan, kesederhanaan dan keharuman. Dan mawar dengan seluruh pesonanya tidak akan pernah hilang, meski ia disebut dengan ratusan nama lain. Sedang bunga bangkai (namanya Raflesia) tetaplah busuk baunya, meskipun seluruh orang di dunia dipaksa menyebutnya mawar.Kawan-kawan, bahasa yang paling sederhana untuk itu semua adalah, bahwa kita tetap akan dipandang atas pesona yang kita miliki, pun dalam kita bekerja. Bahwa kita mampu bekerja dengan baik dan menorehkan ratusan prestasi, itu tetap akan dikenang sesama, meski waktu (melalui seluruh perangkat yang dipunyai organisasi) menempatkan kita sebagai bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Dan bahwa kita tidak mampu melalukan apapun dalam tugas kita, dengan sepenuh kemampuan dan kewenangan kita, kita juga akan dicibirkan sesama kita, meski waktu (masih melalui seluruh perangkat yang dipunyai organisasi) menempatkan kita pada tempat yang teramat layak.Akhirnya, sebuah bait indah yang ditulis Kahlil Gibran dalam Sang Nabi ingin saya tawarkan bagi Anda, “…kerja adalah cinta yang mengejawantah, dan barangsiapa tidak mampu bekerja dengan penuh suka cita, maka lebih baik dia berdiri di depan gapura candi dan menerima darma dari mereka yang bekerja dengan penuh cinta…”

Filsafat Heboooh

Oktober 19, 2007 at 2:44 am | In Artikel | Leave a Comment

I. DEFINITION OF PHILOSOPHY

Etymology

According to its etymology, the word “philosophy” (philosophia, from philein, to love, and sophia, wisdom) means “the love of wisdom”. This sense appears again in sapientia, the word used in the Middle Ages to designate philosophy. In the early stages of Greek, as of every other, civilization, the boundary line between philosophy and other departments of human knowledge was not sharply defined, and philosophy was understood to mean “every striving towards knowledge“. This sense of the word survives in Herodotus (I, xxx) and Thucydides (II, xl). In the ninth century of our era, Alcuin, employing it in the same sense, says that philosophy is “naturarum inquisitio, rerum humanarum divinarumque cognitio quantum homini possibile est aestimare” — investigation of nature, and such knowledge of things human and Divine as is possible for man (P.L., CI, 952). In its proper acceptation, philosophy does not mean the aggregate of the human sciences, but “the general science of things in the universe by their ultimate determinations and reasons”; or again, “the intimate knowledge of the causes and reasons of things”, the profound knowledge of the universal order. Without here enumerating all the historic definitions of philosophy, some of the most significant may be given. Plato calls it “the acquisition of knowledge“, ktêsis epistêmês (Euthydemus, 288 d). Aristotle, mightier than his master at compressing ideas, writes: tên onomazomenên sophian peri ta procirc;ta aitia kai tas archas hupolambanousi pantes — “All men consider philosophy as concerned with first causes and principles” (Metaph., I, i). These notions were perpetuated in the post-Aristotelean schools (Stoicism, Epicureanism, neo-Platonism), with this difference, that the Stoics and Epicureans accentuated the moral bearing of philosophy (“Philosophia studium summae virtutis”, says Seneca in “Epist.”, lxxxix, 7), and the neo-Platonists its mystical bearing (see section V below). The Fathers of the Church and the first philosophers of the Middle Ages seem not to have had a very clear idea of philosophy for reasons which we will develop later on (section IX), but its conception emerges once more in all its purity among the Arabic philosophers at the end of the twelfth century and the masters of Scholasticism in the thirteenth. St. Thomas, adopting the Aristotelean idea, writes: “Sapientia est scientia quae considerat causas primas et universales causas; sapientia causas primas omnium causarum considerat” — Wisdom [i.e. philosophy] is the science which considers first and universal causes; wisdom considers the first causes of all causes” (In Metaph., I, lect. ii). In general, modern philosophers may be said to have adopted this way of looking at it. Descartes regards philosophy as wisdom: “Philosophiae voce sapientiae studium denotamus” — “By the term philosophy we denote the pursuit of wisdom” (Princ. philos., preface); and he understands by it “cognitio veritatis per primas suas causas” — “knowledge of truth by its first causes” (ibid.). For Locke, philosophy is the true knowledge of things; for Berkeley, “the study of wisdom and truth” (Princ.). The many conceptions of philosophy given by Kant reduce it to that of a science of the general principles of knowledge and of the ultimate objects attainable by knowledge — “Wissenschaft von den letzten Zwecken der menschlichen Vernunft”. For the numerous German philosophers who derive their inspiration from his criticism — Fichte, Hegel, Schelling, Schleiermacher, Schopenhauer, and the rest — it is the general teaching of science (Wissenschaftslehre). Many contemporary authors regard it as the synthetic theory of the particular sciences: “Philosophy”, says Herbert Spencer, “is completely unified knowledge” (First Principles, #37). Ostwald has the same idea. For Wundt, the object of philosophy is “the acquisition of such a general conception of the world and of life as will satisfy the exigencies of the reason and the needs of the heart” — “Gewinnung einer allgemeinen Welt — und Lebensanschauung, welche die Forderungen unserer Vernunft und die Bedurfnisse unseres Gemüths befriedigen soll” (Einleit. in d. Philos., 1901, p. 5). This idea of philosophy as the ultimate science of values (Wert lehre) is emphasized by Windelband, Déring, and others. The list of conceptions and definitions might be indefinitely prolonged. All of them affirm the eminently synthetic character of philosophy. In the opinion of the present writer, the most exact and comprehensive definition is that of Aristotle. Face to face with nature and with himself, man reflects and endeavours to discover what the world is, and what he is himself. Having made the real the object of studies in detail, each of which constitutes science (see section VIII), he is led to a study of the whole, to inquire into the principles or reasons of the totality of things, a study which supplies the answers to the last Why’s. The last Why of all rests upon all that is and all that becomes: it does not apply, as in any one particular science (e.g. chemistry), to this or that process of becoming, or to this or that being (e.g. the combination of two bodies), but to all being and all becoming. All being has within it its constituent principles, which account for its substance (constitutive material and formal causes); all becoming, or change, whether superficial or profound, is brought about by an efficient cause other than its subject; and lastly things and events have their bearings from a finality, or final cause. The harmony of principles, or causes, produces the universal order. And thus philosophy is the profound knowledge of the universal order, in the sense of having for its object the simplest and most general principles, by means of which all other objects of thought are, in the last resort, explained. By these principles, says Aristotle, we know other things, but other things do not suffice to make us know these principles (dia gar tauta kai ek toutôn t’alla gnôrizetai, all’ ou tauta dia tôn hupokeimenônMetaph., I). The expression universal order should be understood in the widest sense. Man is one part of it: hence the relations of man with the world of sense and with its Author belong to the domain of philosophy. Now man, on the one hand, is the responsible author of these relations, because he is free, but he is obliged by nature itself to reach an aim, which is his moral end. On the other hand, he has the power of reflecting upon the knowledge which he acquires of all things, and this leads him to study the logical structure of science. Thus philosophical knowledge leads to philosophical acquaintance with morality and logic. And hence we have this more comprehensive definition of philosophy: “The profound knowledge of the universal order, of the duties which that order imposes upon man, and of the knowledge which man acquires from reality” — “La connaissance approfondie de l’ordre universel, des devoirs qui en résultent pour l’homme et de la science que l’homme acquiert de la rémite” (Mercier, “Logique”, 1904, p. 23). — The development of these same ideas under another aspect will be found in section VIII of this article. 

Blog pada WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.